Rabu 24 Sep 2014 21:26 WIB

Radikalisasi Anak Muda Australia tak Lepas dari Kebijakan Luar Negeri

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Radikalisasi anak muda Muslim di Australia terjadi karena berbagai faktor, termasuk internet, keinginan untuk bertualang, dan kebijakan luar negeri Australia sendiri. Inilah beberapa pendapat yang dikemukakan dalam acara diskusi panel Q&A hari Senin (22/9) malam lalu di ABC.

Kali ini, diskusi Q&A, yang melibatkan sejumlah panelis dan hadirin, mengundang juru bicara bidang keamanan Partai Hijau, Scott Ludlam, Menteri Kehakiman dan pengawas kepolisian Michael Keenan, aktivis Hak Azasi Manusia dan penulis Randa Abdel-Fattah, pakar anti-terorisme Anne-Azza Aly, serta Jjuru bicara bidang kejaksaan Partai Buruh yang beroposisi, Mark Dreyfus.

Ada tiga topik yang diangkat malam itu, yaitu razia anti-teror besar-besaran yang baru-baru ini dilakukan di beberapa kota di Australia, kebebasan sipil, dan tindakan militer Australia menyikapi grup radikal ISIS di Irak.

Sheik Google

Diungkit pula sebab-sebab mengapa generasi muda Australia bisa tertarik dengan pandangan radikal.

Menurut Anne-Azza Aly, jalan menuju radikalisasi berbeda-beda untuk setiap orang.

Namun, yang seringkali terjadi adalah mereka penasaran, lalu mencari-cari tahu di internet, dan bertanya pada 'Sheik [semacam ulama] Google' dan bukannya bertanya atau mendengar ceramah tokoh Muslim moderat di sekitar mereka.

"Mereka tidak mendengarkan perkataan tokoh masyarakat dan pemimpin agama yang sangat moderat dan ingin membimbing mereka ke jalan yang benar," ucap Aly,

"Mereka pergi ke Youtube. Mereka berpaling pada 'Sheik Google' dan mereka menemukan sheik-sheik radikal di negara-negara lain."

"Banyak yang justru tak tahu banyak soal agama...jadi ada sebab lain, faktor sosial, petualangan, ingin jadi pahlawan...ada yang pergi ke sana [Suriah atau Irak] karena mereka benar-benar mengira bahwa mereka melakukan sesuatu yang terpuji."

Randa Abdel-Fattah kemudian menambahkan bahwa, selain sebab-sebab itu, negara-negara barat seperti Australia juga perlu bercermin tentang kebijakan dan tindakannya di luar negeri, yang, yang menurutnya, melahirkan kondisi yang tak adil dan memporak-porandakan kawasan Timur Tengah.

"Legitimasi dan pembenaran, pemberian Israel izin untuk membunuh. Memangnya itu tidak memicu kemarahan? Memangnya itu tidak menanam benih? Kita di dunia Barat berusaha memotong pohon-pohon terorisme, sementara kita menanam benih terorisme..." katanya,

"Ini kita lakukan saat kita membiarkan Israel melakukan kejahatan perang, saat kita membabi buta mendukung Amerika Serikat."

Ketidakadilan dan kejahatan perang macam itu seringkali memicu kemarahan anak muda yang kemudian menjadi tertarik pada pandangan radikal, jelas Abdel-Fattah.

"Bila kita tidak menyikapi sebab-sebab dasar ini, dan terus menganggap ini hanyalah penyakit Muslim, kita tak akan bisa memecahkan masalah radikalisasi."

Aly menyatakan bahwa, selain hukum anti-teror, perlu dilakukan program-program lain untuk menyikapi radikalisasi, seperti program konseling keluarga.

Di Jerman, ceritanya, ada program bernama Exit Germany, yang termasuk di dalamnya program konseling bagi keluarga-keluarga muda yang teradikalisasi atau tampak ingin bergabung dengan ISIS. Program ini sudah diadopsi beberapa negara.

"Kita belum bekerjasama dengan keluarga. Kita belum bekerjasama dengan para ibu," ucap Aly.

Penyikapan Terhadap Razia Anti Teror

Terkait razia besar-besaran melibatkan ratusan di beberapa kota di Australia minggu sebelumnya, beberapa panelis dan penonton bertanya apakah tindakan itu, dan cara peliputannya, merupakan aksi teatrikal besar-besaran atau bahkan alat untuk membenarkan keputusan Australia mengirim pasukan ke Irak dan meloloskan hukum anti-terorisme yang lebih ketat.

Anggapan ini dibantah oleh Menteri Kehakiman Michael Keenan. "Keputusan untuk melakukan hal-hal macam ini di waktu tertentu adalah keputusan operasional bagi kepolisian. Ini bukanlah keputusan politis," ucapnya.

Bahkan, Ia mengaku tidak tahu menahu soal rencana razia tersebut sampai dekat tanggal mainnya.

Beberapa penonton dan panelis mengungkit bahwa tindakan teror tidak hanya dilakukan oleh penganut Islam radikal, melainkan juga kelompok-kelompok lain seperti kelompok sayap kanan radikal Australian Defence League.

Pembawa acara dan moderator Tony Jones menyebut bahwa kelompok ini dikabarkan pernah mengancam membom masjid dan mengganggu perempuan yang mengenakan burka.

Salah seorang penonton yang mengenakan jilbab pun bercerita bahwa ADL pernah mengancam akan memenggal kepalanya.

"Saya sudah melaporkan ini beberapa kali pada polisi," ucapnya.

Keenan menyatakan bahwa Ia akan memastikan bahwa kasus itu diinvestigasi. "Saya akan mengikuti kelanjutannya, dan saya akan kabari anda," ucapnya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement