Jumat 13 Feb 2015 13:44 WIB

Indonesia Nomor 2 Terbanyak Membuang Sampah Plastik di Lautan

Red:
Sampah plastik
Foto: abc news
Sampah plastik

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Indonesia menempati urutan nomor 2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang hingga 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya.

Data ini terungkap dalam hasil penelitian yang dimuat di Jurnal Science yang terbit Jumat (13/2). Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton.

Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor.

"Ini adalah akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut," katanya kepada ABC.

Indonesia sendiri menempati urutan nomor dua disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Sementara Australia meskipun tidak termasuk dalam 20 besar, namun setipa tahunnya juga turut membuang sampah plastik ke lautan dengan jumlah sekitar 0,01 juta ton.

"Itu data tahun 2010," kata Dr Wilcox baru-baru ini. "Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju."

Selama ini, besaran volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan kasar sehingga angkanya harus dilihat secara kisaran.

Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model yang memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.

Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dan dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebutkan, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik yang murah. "Plastik dihargai sangat murah," katanya.

"Kita bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya dan mengenakan denda bagi yang membuat sampah sembarangan," kata Dr Wilcox.

"Tapi yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga," tambahnya.

Dijelaskan, dalam siklus 11 tahun, jumlah plastik mengalami peningkatan dua kali lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement