Rabu 24 Aug 2016 17:10 WIB

Warga Selandia Baru Merasa Paling Didiskriminasi

 Banyak warga Selandia Baru tinggal di Australia menggunakan Visa Kategori Khusus.
Foto: Reuters/Bogdan Cristel
Banyak warga Selandia Baru tinggal di Australia menggunakan Visa Kategori Khusus.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Menurut sebuah laporan terbaru di Australia, warga Selandia Baru yang pindah ke Australia melaporkan bahwa mereka mendapatkan diskriminasi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok migran lain. Laporan bernama The Australians Today didasarkan pada surveri terhadap lebih dari 10 ribu orang.

Dalam laporannya disebutkan kebanyakan migran puas dengan kehidupan mereka di Australia, namun warga Selandia Baru dan Sudan Selatan adalah dua kelompok yang paling sedikit merasa bagian dari kehidupan di Australia dan mengalami diskriminasi paling banyak.

Penulis laporan Profesor Andrew Markus mengatakan banyak warga Selandia Baru, yang memegang Visa Kategori Khusus (Special Category Visa) mengatakan mereka mendapat 'kesepakatan yang buruk' di Australia karena mereka boleh kerja dan tinggal namun tidak bisa memberikan suara di pemilu dan tidak menerima tunjangan sosial dan tunjangan lainnya.

"Di satu sisi, mereka sudah tahu hal tersebut karena semuanya sudah dijelaskan dari awal kepada mereka." kata Prof Markus.

"Namun mereka tetap saja merasa tidak puas, karena mereka sudah bekerja bertahun-tahun di sini, membayar pajak, memberikan kontribusi bagi masyarakat, namun ketika mereka mengalami kesulitan, mereka tidak bisa mendapatkan tunjangan sosial dari Centrelink. Mereka juga tidak puas dengan kenyataan warga Australia yang pindah ke Selandia Baru bisa mendapatkan kewarganegaraan penuh, namun ini untuk proses sebaliknya," katanya.

Profesor Markus mengatakan tingkat prasangka warna kulit terhadap migran asal Sudan Selatan sangat 'tinggi', dengan 80 persen responden mengatakan mereka mengalami diskriminasi.

Baik warga Selandia Baru dan Sudan Selatan juga melaporkan rasa percaya rendah terhadap Australia, dengan warga Selandia Baru tidak memiliki kepercayaan terhadap partai politik (10 persen), dan warga Sudan Selatan melaporkan rasa tidak percaya dengan polisi (24 persen) dibandingkan kelompok migran lain.

Baru-baru ini terjadi ketegangan ketika lebih dari 100 anak muda keturunan Afrika, Islander dan kulit putih memenuhi jalan di kota Melbourne selama Momba Festival dan bentrok dengan polisi.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/warga-selandia-baru-merasa-mendapat-diskriminasi-di-australia/7780330
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement