Senin 11 Jan 2016 17:45 WIB

Terinspirasi Uber, Australia Akan Miliki Layanan Jet Pribadi Berbiaya Bulanan

Red:
abc news
Foto: abc news
abc news

Maskapai baru bernama ‘Airly’ menawarkan penerbangan pribadi tak terbatas antara Melbourne, Canberra dan Sydney untuk anggota yang membayar biaya bulanan.

Airly, secara efektif, adalah sebuah klub terbang, di mana beberapa ratus anggotanya membayar sebesar 1.000 dolar (atau setara Rp 10 juta) untuk biaya pendaftaran dan 2.550 dolar (atau setara Rp 26 juta) per bulan untuk penerbangan tak terbatas antara Bandara Bankstown di Sydney dan Bandara Essendon di Melbourne, serta penerbangan ke Canberra.

Para penumpang akan terbang dalam pesawat King Air 350 turboprop 8 kursi.

Salah satu pendiri Airly, Luke Hampshire, berharap untuk meluncurkan layanan jet pribadi ini pada akhir tahun 2016.

"Kami memberi anggota kami akses ke pesawat pribadi delapan kursi, yang terbang antara rute udara tersibuk di Australia dengan biaya bulanan flat," katanya.

Airly hanyalah contoh lain dari perusahaan start-up yang menggunakan teknologi baru untuk menggoyang industri yang telah mapan.

Kehadirannya menyusul keberhasilan layanan transpor ‘Uber’, dan situs sewa apartemen pribadi, Airbnb.

Luke yakin kenyamanan terbang dengan Airly akan sepadan dengan harganya.

"Kami akan menghemat perjalanan mereka dua jam per pulang-pergi, waktu yang biasanya dihabiskan untuk transit, mencari parkir mobil, mengantri pemeriksaan sekuriti, mencoba masuk atau keluar Sydney dan juga dengan semua kemacetan," utaranya..

"Kami benar-benar berpikir kami akan mengubah perjalanan udara bagi para komuter rutin," sambungnya.

Pasar penerbangan kompetitif

Pakar penerbangan memperingatkan, perusahaan start-up ini bisa saja gagal karena penerbangan domestik tak pernah bertarif murah.

"Saya tak berpikir ini akan berhasil. Satu-satunya bandara yang akan mereka masuki adalah bandara kedua seperti Bankstown, Essendon dan Archerfield dan jika bandara ini sangat populer seseorang akan mencoba untuk mengoperasikan pesawat umum reguler masuk ke bandara tersebut,” kata Ketua lembaga ‘Strategic Aviation Solutions’, Neil Hansford.

Neil mengatakan, peningkatan laba Qantas baru-baru ini akan menjadi hambatan besar bagi kesuksesan Airly.

"Qantas telah menegaskan bahwa Qantas Group tak akan memiliki kurang dari 65% mereka yang bepergian, dan sementara target itu terpenuhi dan catatan kredit Qantas semakin baik, itu akan membuat pasar sangat kompetitif," pendapatnya.

Ia menambahkan, "Ya, Anda akan membayar tarif tinggi jika Anda tak terorganisir dan Anda merencanakan apa yang Anda lakukan. Saya harus mengatakan, untuk tempat-tempat seperti Perth, tak pernah begitu baik."

Tapi Luke mengatakan, Airly telah mendapatkan pelanggan kelas atas seperti para CEO, direktur, dan pengusaha yang memesan layanan mereka – para penumpang kelas atas yang tertarik untuk membentuk jaringan di udara.

"Harga bahan bakar semakin baik, itu menguntungkan kami, dolar Aussie membaik, yang juga menguntungkan kami, tetapi orang-orang yang mencari layanan yang benar-benar pribadi, cara yang sangat efisien dan efisien untuk pulang-pergi secara rutin, kami pikir kami adalah pilihan tepat," kemukanya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement