Jumat , 13 October 2017, 00:07 WIB

IMF Turunkan Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Australia

Rep: Peter Ryan/ Red: Budi Raharjo
ABC News
Bongkar muat barang di pelabuhan.
Bongkar muat barang di pelabuhan.

REPUBLIKA.CO.ID,Melemahnya nilai ekspor barang tambang serta investasi perumahan yang dihantam badai cuaca awal tahun ini mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Australia.

Dalam perubahan prediksi yang tampaknya sementara, Outlook Ekonomi Dunia terbaru IMF yang dirilis semalam merevisi pertumbuhan Australia secara tajam menjadi 2,2 persen untuk 2017 dari proyeksi 3 persen enam bulan yang lalu.

Meskipun ekonomi Australia diperkirakan pulih pada 2018, perkiraan IMF juga menurun untuk tahun depan menjadi 2,9 persen dibandingkan 3 persen yang diperkirakan sebelumnya. "Pertumbuhan diperkirakan untuk sementara menurun menjadi 2,2 persen di Australia, dimana investasi perumahan dan ekspor pertambangan pada paruh pertama tahun ini terganggu oleh cuaca buruk," demikian pernyataan IMF.

Menteri Perbendaharaan Negara (Treasurer) Scott Morrison yang berada di Washington menghadiri pertemuan tahunan IMF, mengatakan pihaknya tetap berpegang pada perkiraan APBN sendiri, namun akan mempertimbangkan perkiraan IMF.

"Kami jelas akan merevisi atau meninjau ulang hal itu seperlunya saat kita memasuki pengumuman ekonomi pertengahan tahun. Itulah saat untuk melakukan hal itu," kata Morrison.

Meskipun tidak menolak revisi IMF, Morrison menunjuk data ekonomi "menggembirakan", termasuk survei bisnis terbaru dari NAB yang menggambarkan kondisi bisnis sebagai sangat solid. "Hari-hari menggembirakan seperti yang saya sampaikan saat mengumumkan APBN ditopang oleh data ini. Jangan lupa sebanyak 325.000 orang Australia mendapatkan pekerjaan tahun lalu," kata Morrison.

IMF mengutip dampak dari Siklon Debbie pada bulan Maret 2017 sebagai faktor dalam tertundanya pengiriman batubara yang memicu penurunan indeks harga, yang sejak itu telah pulih sebesar 16,5 persen.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa permintaan yang kuat dari China membantu pemulihan harga, di samping perselisihan perburuhan di pertambangan Australia yang mengakibatkan dibatasinya pasokan. IMF mendesak Australia untuk menggunakan suku bunga rendah dalam menghadapi "defisit infrastruktur", di samping Kanada, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat.

Lembaga itu juga mendesak perhatian lebih besar bagi merehabilitasi transportasi darat dan memperbaiki teknologi seperti kereta kecepatan tinggi, pelabuhan, telekomunikasi, investasi broadband dan ramah lingkungan.

"Setelah tiga dekade penurunan yang hampir terus-menerus, investasi publik di bidang infrastruktur dan persediaan modal publik sebagai bagian dari output kini mendekati titik terendah di negara-negara maju," demikian kata IMF.

"Banyak negara dapat memanfaatkan lingkungan pendanaan yang menguntungkan untuk memperbaiki kualitas infrastruktur yang ada serta melaksanakan proyek baru," tambahnya.

IMF juga mengemukakan kekhawatiran tentang tertundanya reformasi terhadap produktivitas dan praktik kerja, sekali lagi menyebut Australia sebagai contoh bersama Yunani, Italia, Jepang dan Spanyol. "Produktivitas yang terus-menerus lamban di beberapa negara telah memberi penekanan lebih besar pada reformasi pasar produk dan tenaga kerja," kata IMF.

"Reformasi ini terbukti meningkatkan produktivitas dan lapangan kerja serta memperbaiki ketahanan terhadap guncangan," tambahnya.

Revisi IMF ini dilakukan setelah 26 tahun pertumbuhan ekonomi Australia yang terus berlanjut, termasuk keberhasilan menghindari sebagian besar dampak dari krisis ekonomi global karena booming investasi pertambangan dan dukungan pemerintah kepada sektor perbankan.

Keyakinan tentang ekonomi global yang hati-hati didasarkan pada prakiraan IMF mengenai pulihnya investasi, perdagangan dan produksi industri setelah periode pertumbuhan lambat dan inflasi yang rendah.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.

Sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/bisnis-investasi/imf-turunkan-prediksi-pertumbuhan-ekonomi-australia/9043258

Berita Terkait