Kamis 08 Feb 2018 16:40 WIB

311 Tentara Anak Dibebaskan dari Milisi Sudan Selatan

Anak-anak tersebut secara resmi telah dilucuti senjatanya dan diberi pakaian sipil.

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah
Tentara anak di perbatasan Chad-Sudan.
Foto: REUTERS/Emmanuel Braun
Tentara anak di perbatasan Chad-Sudan.

REPUBLIKA.CO.ID, JUBA -- Sebanyak 311 tentara anak-anak, termasuk 87 anak perempuan, telah dibebaskan oleh kelompok bersenjata di Sudan Selatan. Pada sebuah upacara di Yambio, Negara Bagian Gbudue, anak-anak itu secara resmi telah dilucuti senjatanya dan diberikan pakaian sipil.

Langkah ini dipuji sebagai bagian awal penting menuju pelepasan puluhan ribu tentara anak yang diyakini ikut berperang dalam perang sipil di negara tersebut. Diharapkan sekitar 700 anak dapat dibebaskan dalam beberapa pekan ke depan.

"Ini adalah langkah penting dalam mencapai tujuan akhir kita untuk mendapatkan ribuan anak-anak yang masih berada dalam barisan kelompok bersenjata untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka," kata Mahimbo Mdoe, perwakilan UNICEF untuk Sudan Selatan, dikutip the Guardian.

"Ini adalah pembebasan terbesar tentara anak-anak dalam hampir tiga tahun dan sangat penting bagi negosiasi untuk terus berlanjut sehingga ada banyak kesempatan lagi seperti ini," tambah dia.

Gerakan Pembebasan Nasional Sudan Selatan tercatat berhasil membebaskan 215 tentara anak-anak. Sementara sisanya dibebaskan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Sudan.

Anak-anak itu akan mendapatkan pemeriksaan medis, serta layanan konseling dan psikososial, sebagai bagian dari program reintegrasi yang dilaksanakan oleh UNICEF dan kelompok bantuan lainnya. Mereka yang memiliki keluarga di daerah tersebut akan berkumpul kembali dengan keluarga.

Yang lainnya akan ditempatkan di pusat perawatan sementara sampai keluarga mereka dapat dilacak. Anak-anak tersebut juga akan menerima pelatihan kejuruan.

"Tidak semua anak direkrut secara paksa. Banyak yang bergabung dengan kelompok bersenjata karena mereka merasa tidak punya pilihan lain," kata Mdoe.

"Prioritas kami untuk kelompok ini, dan untuk anak-anak di Sudan Selatan, adalah memberikan dukungan yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat melihat masa depan yang lebih menjanjikan," jelasnya.

Perhatian khusus akan diberikan kepada para remaja putri dan anak perempuan, yang kemungkinan telah mengalami pelecehan seksual. Dengan demikian mereka dapat bergabung kembali dengan komunitas mereka tanpa stigma yang terkait dengan pelecehan tersebut.

"Kami sangat prihatin dengan sejumlah gadis yang telah mengalami kekerasan seksual. Kami akan mendukung mereka, sehingga mereka bisa memiliki harapan lagi," ujar Mesfin Loha, Direktur Nasional World Vision South Sudan.

Negosiasi untuk membebaskan tentara anak-anak telah dilakukan oleh UNICEF, pemerintah negara bagian, dan kelompok setempat. Misi PBB di Sudan Selatan mengatakan, mereka telah menyediakan pasukan penjaga perdamaian untuk mengawal para pemimpin agama ke daerah semak-semak terpencil untuk melakukan kontak dan bernegosiasi dengan kelompok-kelompok bersenjata.

Pekan ini, Human Rights Watch menuduh Sudan Selatan gagal memenuhi janji  melakukan demobilisasi dan membebaskan semua anak yang direkrut atau terdaftar sebagai tentara. Organisasi tersebut menemukan, pemerintah dan pihak-pihak yang berperang telah menculik, menahan, dan memaksa anak-anak berusia 13 tahun untuk masuk dalam barisan tentara mereka sejak ditandatanganinya sebuah kesepakatan damai pada Agustus 2015.

UNICEF memperkirakan sekitar 19 ribu anak-anak saat ini masih menjadi tentara, lebih dari empat tahun setelah perang saudara pecah pada Desember 2013.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement