Selasa , 27 Desember 2016, 05:07 WIB

Sabun Beraroma Pertama Kali Diproduksi di Aleppo

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
botaniesoap
Sabun mandi
Sabun mandi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Dalam peradaban manusia, sabun memiliki sejarah panjang. Salah satu perlengkapan penting untuk membersihkan badan ini diketahui sudah diproduksi dan digunakan pada masa peradaban Babilonia.

Sebuah catatan pada lempengan tanah liat yang ditemukan di Mesopotamia pada 2.800 Sebelum Masehi secara jelas menyebutkan, bahan-bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun. Lempengan tanah liat di Sumeria bertahun 2.200 Sebelum Masehi bahkan mencatat resep pembuatan sabun.

Dalam papirus Ebers juga disebutkan, di era Amenhotep I pada 1.550 Sebelum Masehi sudah ditemukan teknik membuat sabun di Mesir. Sabun tersebut dibuat dari campuran lemak hewan atau minyak tumbuhan dengan garam yang  disebut trona dari lembah Nil. Catatan lain menyebutkan, sabun digunakan dalam proses pembuatan wol.

Sementara di Eropa, bangsa Gaul dan Teuton termasuk yang awal membuat sabun. Wanita-wanita Gaul juga sudah mengetahui sabun dapat membersihkan kotoran pada kain.

Orang Roma tidak memproduksi sabun. Mereka menggunakan minyak untuk membersihkan kulit. Meski begitu, orang Roma tahu bangsa Gaul menggunakan sabun. Memasuki era Masehi, seorang tokoh Yunani bernama Galen merekomendasikan penggunaan sabun untuk mencegah penyebaran penyakit dan untuk antiseptik. 

Namun, yang paling berkontribusi pada perkembangan sabun modern adalah bangsa Arab. Bangsa Arab secara reguler memproduksi sabun dari minyak zaitun, minyak dafnah, atau minyak thyme. Merekalah yang pertama menggunakan soda alkali untuk membuat sabun modern.

Sabun beraroma dan beraneka warna pertama kali diproduksi di Aleppo, Suriah, yang kemudian  menyebar ke seluruh kawasan Arab. Sejak tahun 800 Masehi, seiring ekspansi kerajaan Arab, sabun mulai dikenalkan di Sisilia dan Spanyol yang kemudian menyebar ke Eropa.

Pabrik sabun pertama di Eropa beroperasi pada abad ke-12 di Castile, Spanyol, dan di Savona, Italia. Setelah itu, sabun Marseille, Prancis, lahir yang tekniknya diimpor langsung dari Aleppo. Namun, produk sabun di Prancis lebih merupakan produk seni.

Produksi sabun modern ini kemudian berkembang di beberapa wilayah seperti Tripoli. Bila produk sabun tradisional di Aleppo relatif monokrom, sabun di Tripoli lebih berwarna-warni. Bursa sabun utama abad ke-16 di Tripoli, Khan al-Sabun, merupakan pasar yang wajib menjadi pemberhentian pertama produk sabun dari Aleppo. Industri sabun di Tripoli sendiri baru maju pada abad ke-17 dan ke-18.

Saat itu, Kesultanan Turki Utsmani membuat regulasi fiskal yang memungkinkan pembiayaan distribusi soda alkali yang menjadi bahan baku sabun dari Homs dan Hama di Suriah ke Tripoli. Dua per tiga dari soda alkali dari Suriah dipasok ke empat pabrik sabun milik Kesultanan Turki Utsmani di Tripoli. Selama masa keemasan itu, Khan al-Sabun menjadi jantung industri sabun.