Selasa , 27 December 2016, 05:27 WIB

Sabun Aleppo yang tak Lagi Wangi

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
pdpics
Sabun mandi
Sabun mandi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sabun dafnah dipercaya telah berkembang di Suriah sekitar 2.000 tahun silam. Ada puluhan produsen yang mempertahankan cara tradisional pembuatan sabun ini. Kebanyakan dari mereka berada di Aleppo. Di kota ini, produksi sabun berlangsung pada November hingga April. Sementara, proses pemasaran berlangsung pada Mei hingga November.

Sabun tradisional ini mengandalkan sumber daya lokal, terutama minyak zaitun yang merupakan sebagian kecil dari bahan pembuat sabun. Sayangnya, pengelolaan minyak dafnah masih kurang baik sehingga minyak dafnah harus diimpor dari Turki.

(Baca: Sabun Beraroma Pertama Kali Diproduksi)

Sabun Aleppo adalah produk yang unik karena dibuat dengan teknik tradisional turun-temurun yang lestari selama ribuan tahun. Formula dan produksinya membuat sabun ini tak berubah dan tetap berharga tinggi.

Sabun ini terbuat dari minyak zaitun alami, minyak dafnah, dan air yang dicampur natrium hidroksida. Semua bahan itu dipanaskan dan dibiarkan dingin secara alami. Setelah adonan sabun dingin dan mengeras, bongkahan besar sabun dipotong-potong. Sabun ini tahan setidaknya hingga tiga bulan. Selama itu, warna sabun akan berubah dari hijau menjadi cokelat.

Mereka yang pernah berkunjung ke Aleppo dengan mudah membuktikan kualitas sabun alami ini. Sabun Aleppo yang alami dan mudah diurai lingkungan ini merupakan produk perawatan tubuh yang kondang sebagai pelembap kulit. Karena itu, produk ini sering digunakan untuk memandikan  bayi.

Di lapak-lapak Suq al-'Attarin (pasar minyak wangi) di Aleppo, dipenuhi tumpukan balok-balok kecil sabun berwarna hijau dan kuning. Pabrik-pabrik sabun tradisional di Aleppo bisa saja tersembunyi, tetapi tak sulit menyusuri jejak wangi minyak dafnah yang memenuhi udara.

Menggunakan bahan dasar alami dan organik, sabun Aleppo mudah diterima di pasar internasional seperti Eropa dan AS. Minyak dafnah tersohor sebagai bahan yang mampu membantu menjaga kelembapan kulit dengan kandungan vitamin E-nya yang tinggi. Maka tak mengherankan jika sebatang sabun Aleppo bisa dibanderol 7-11 dolar di AS atau 6-10 dolar AS di Inggris.

Sabun Aleppo biasanya dijual kepada konsumen lokal atau toko-toko herbal, hanya sebagian kecil yang dijual kepada wisatawan asing. Produsen sabun Aleppo juga memodifikasi produk untuk merambah pasar baru ke hotel-hotel, wisatawan, dan para saudagar asing.

Namun, cerita indah itu kini luruh seiring koyaknya Aleppo akibat peperangan yang mencabik-cabik Suriah dalam lima tahun terakhir. Andaikan saja tak ada peperangan, niscaya perputaran uang dari bisnis sabun Aleppo masih menggelinding. Para produsen sabun tradisional itu pun masih menikmati wanginya bisnis ini.

Semoga saja perang yang kejam ini segera berakhir, sehingga ada peluang sabun bersejarah ini kembali menebarkan aromanya nan wangi.