Selasa 09 Jul 2013 06:57 WIB

Kuba Dukung Amerika Latin Beri Suaka untuk Snowden

This June 9, 2013 photo provided by The Guardian newspaper in London shows Edward Snowden, who worked as a contract employee at the US National Security Agency, in Hong Kong. (file photo)
Foto: AP/the Guardian
This June 9, 2013 photo provided by The Guardian newspaper in London shows Edward Snowden, who worked as a contract employee at the US National Security Agency, in Hong Kong. (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pembocor informasi rahasia yang menjadi buronan Amerika Serikat, Edward Snowden, telah mendapatkan dukungan dari Kuba dalam upaya mendapatkan suaka di Amerika Latin.

Hari Senin ini menandai minggu ketiga keberadaan Snowden dalam ketidakpastian di sebuah bandar udara di Moskow.
Kuba, yang merupakan titik peralihan utama dari Rusia menuju Amerika Latin, mendukung para pemimpin Bolivia, Venezuela dan Nikaragua, yang telah menawari Snowden perlindungan saat pria berumur 30 tahun itu masih terdampar tanpa dokumen di daerah peralihan sebuah bandara di Moskow.

"Kami mendukung hak-hak kedaulatan Republik Bolivar Venezuela dan semua negara kawasan untuk memberikan suaka kepada mereka yang diadili karena ideologi atau perjuangan mereka bagi hak-hak demokratik, seperti tradisi kita," kata pemimpin Kuba Raul Castro, Minggu.

Ketika berbicara di majelis nasional Kuba, Castro tidak mengatakan apakah negaranya, yang telah menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Washington, juga akan menawarkan perlindungan kepada Snowden.

"Jika solidaritas yang ditunjukkan Raul Castro kepada #Snowden serius, Kuba akan secara terbuka menawarkan pemberian suaka bagi Snowden," kata organisasi anti-kerahasiaan WikiLeaks melalui Twitter.

Namun demikian, berbagai hambatan terus menyelimuti harapan pegawai kontrak Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) itu mendapatkan suaka.

Masih belum jelas bagaimana Snowden akan bisa meninggalkan Rusia, bahkan jika mendapatkan suaka dari ketiga negara Amerika Latin itu.

Kedutaan besar Nikaragua di Moskow pada Senin memastikan bahwa pihaknya telah menerima permintaan suaka dari Snowden, namun menekankan bahwa pihaknya belum melakukan kontak dengan warga negara Amerika itu.

"Kami menerima surat dari Snowden," kata duta besar Nikaragua di Moskow, Luis Alberto Molina, kepada kantor berita Rusia ITAR-TASS. "Kami telah meneruskan (surat itu, red) ke Nikaragua agar presiden dapat mempertimbangkannya."

Adapun kedutaan-kedutaan Bolivia dan Venezuela mengatakan mereka tidak mengetahui perkembangan yang bisa membantu Snowden meninggalkan Bandar Udara Sheremetyevo.

Kremlin pada hari Senin menekankan bahwa pihaknya tetap ingin menjaga jarak dengan masalah Snowden, dengan menolak untuk mengatakan bagaimana Snowden dapat meninggalkan Rusia tanpa memiliki paspor yang berlaku sah.
"Itu bukan urusan kami," kata juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, kepada AFP. "Kami tidak mengatakan apapun."

Snowden, yang berupaya menghindari proses hukum di AS karena membocorkan informasi rinci dan menghebohkan tentang program pengintaian elektronik besar-besaran yang dijalankan AS, membuat Kremlin kikuk saat ia tiba di Rusia dari Hong Kong pada 23 Juni lalu.

Setelah Amerika Serikat mencabut paspornya, Snowden --yang telah mengajukan permintaan suaka kepada 27 negara, tidak bisa meninggalkan wilayah transit Sheremetyevo.

Satu-satunya penerbangan --maskapai penerbangan Aeroflot yang terbang selama 12 jam ke Havana, yang diketahui memiliki Snowden dalam daftar penumpangnya, bertolak tanggal 24 Juni tanpa membawa Snowden di dalamnya. Beberapa lusin jurnalis berada dalam pesawat yang terbang ke Havana itu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement