Selasa 31 Mar 2015 04:17 WIB

Lawan ISIS, British Museum Lakukan Pameran Situs Islam

Rep: C13/ Red: Erik Purnama Putra
British Museum pada malam hari.
Foto: British Museum
British Museum pada malam hari.

REPUBLIKA.CO.ID,  LONDON --- British Museum akan memamerkan artefak yang berkenaan dengan dunia Islam. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan kesalahpahaman ihwal Islam yang selama ini telah diperburuk citranya oleh ISIS. Sebelumnya juga ISIS telah menghancurkan sejumlah artefak dan situs Islam di beberapa wilayah.

"Segala hal yang terjadi di dunia seperti menghancurkan semua warisan Islam, barang antik non-Islam, adalah citra buruk," ujar ketua Yayasan Albukhary Malaysia, Syed Mokhtar Albukhary, seperti dikutip On Islam, Senin (30/3).

Menurutnya, penghancuran artefak dan situs Islam yang dilakukan ISIS merupakan hal yang salah. Sebab, tanpa artefak dan situs, menurutnya, umat Islam tidak akan memiliki sejarah apapun.

Pameran ihwal Islam di British Museum tersebut didanai oleh Albukhary Malaysia. Di museum itu, dia membuka dua galeri baru yang berlokasi di sayap selatan museum. Galeri baru ini akan mengoleksi berbagai bentuk seni dari dunia Islam.

Seperti yang diketahui, selain kekejamannya, ISIS juga telah menghancurkan warisan peradaban di sejumlah tenpat. Mereka menargetkan situs arkeologi di kota-kota yang berada di bawah kendalinya seperti Suriah dan Irak.

ISIS memang memiliki unit yang disebut Katayib Taswiya (batalyon pembongkaran). Unit ini bertugas mengidentifikasi segala hal yang mereka lihat sebagai masjid yang dianggap 'sesat' dan situs yang perlu dihancurkan. Batalion tersebut merobohkan setiap masjid atau gereja-gereja yang dianggap mereka tidak pantas berdiri.

Beberapa patung milik sejarawan, musisi dan penyair juga telah dihancurkan oleh kelompok ekstremis selama bulan terakhir. Menurut warga, militan ISIS telah menghancurkan monumen arkeologi di Mosul (Niniwe) Museum, termasuk banteng Asyur terkenal yang bersayap.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement