Ahad 05 Jul 2015 21:58 WIB

Pengamat: Indonesia Harus Belajar dari Kasus Yunani

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Indira Rezkisari
Masyarakat mengantre untuk memberikan suaranya dalam jajak pendapat di Thessaloniki, Ahad (5/7). Jajak pendapat meminta pertimbangan warga Yunani untuk menerima atau tidak bantuan asing bagi ekonomi Yunani.
Foto: Reuters
Masyarakat mengantre untuk memberikan suaranya dalam jajak pendapat di Thessaloniki, Ahad (5/7). Jajak pendapat meminta pertimbangan warga Yunani untuk menerima atau tidak bantuan asing bagi ekonomi Yunani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia diharapkan dapat mengambil banyak pelajaran dari krisis Yunani yang terjadi saat ini. Sebab, krisis tersebut bukan tidak mungkin dapat dialami Indonesia.

Pengamat Internasional, Teuku Rezasyah mengatakan terjadinya krisis Yunani lantaran pemerintah memberi jaminan terlalu besar dan tidak memberi etos kerja bagi masyarakatnya. Sehingga membuat masyarakat Yunani cenderung malas.

Ia menjelaskan, di Yunani usia pensiun adalah 50 tahun sedangkan di Jerman 60 tahun. Hal ini juga yang membuat Jerman keberatan membantu Yunani. "Karena masyarakatnya berleha-leha," katanya melalui sambungan telepon, Ahad (6/7).

Pemerintah Yunani juga baru sadar bila bergabung dengan Uni Eropa tidaklah baik. "Ini mengajarkan kepada Indonesia untuk tidak bergantung pada ekonomi internasional," katanya.

Cara yang bisa diambil adalah kata dia, pemerintah dapat mengendalikan ekonomi agar tidak 'bubble' ekonomi. Bank sentral yang kuat dan menjaga mata uang. "Sehingga dengan begitu, mata uang Indonesia tidak dapat dimainkan di pasar gelap," tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement