Rabu 07 Oct 2015 15:16 WIB

Tony Blair Sebut Ideologi Ekstrem Didukung Umat Muslim

Rep: Gita Amanda/ Red: Ani Nursalikah
Mantan PM Inggris Tony Blair
Foto: REUTERS/Luke MacGregor
Mantan PM Inggris Tony Blair

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan ideologi ekstrem memiliki dukungan signifikan dari umat Islam di seluruh dunia. Dalam pidatonya di museum peringatan 9/11 di New York, Blair memperingatkan hal itu.

Seperti dilansir The Guardian, Selasa (6/10), menurut Blair ancaman ekstremis tak akan dapat dikalahkan, kecuali prasangka keagaaman di masyarakat Muslim dihilangkan.

Blair mengatakan, angka dari mereka yang terlibat dalam kekerasan melalui kelompok seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) relatif kecil. Namun cara pandang Islam yang justru menyebar secara luas.

"Teori-teori konspirasi yang menerangi banyak tulisan-tulisan mengenai jihad memiliki dukungan signifikan dari populasi kebanyakan beberapa negara Muslim. Ada jutaan anak setiap hari di sekolah di seluruh dunia, bukan hanya Timur Tengah yang diajarkan berpikir sempit mengenai pandangan terhadap dunia dan agama. Itu merugikan, dalam konteks global membahayakan," ungkap Blair.

Blair mengakui, menyerang ide-ide yang berhubungan dengan pandangan masyarakat Muslim di arus utama saja bisa memunculkan serangan dari Muslim bukan hanya ekstremis. Tapi ia mengatakan kekhawatiran seperti itu harus diatasi.

Menurutnya, jika ada orang yang percaya keinginan Amerika Serikat atau Barat adalah menindas Islam maka tak heran ada beberapa yang melakukan jalan kekerasan. Mereka beranggapan hal itu dilakukan untuk menegaskan kembali martabat kaum tertindas.

"Jika orang muda berpendidikan meyakini orang Yahudi jahat atau orang yang memiliki pandangan agama berbeda adalah musuh, jelas prasangka ini menimbulkan sesuatu," tambahnya.

Blair mengatakan, pada kenyataannya ada beberapa bagian dari komunitas Muslim yang mengembangkan wacana menentang hidup berdampingan secara damai. Melawan hal ini menurut Blair adalah bagian penting dari perang melawan terorisme.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement