Kamis 03 Mar 2016 15:11 WIB

Perang Sipil Sudan Selatan Tewaskan 50 Ribu Orang Tewas

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah
Mantan Wapres Sudan Selatan, Riek Machar, yang dituding melakukan kudeta.
Foto: Reuters
Mantan Wapres Sudan Selatan, Riek Machar, yang dituding melakukan kudeta.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Sedikitnya 50 ribu orang tewas dalam perang sipil di Sudan Selatan selama dua tahun. Pada Rabu (2/3), seorang pejabat senior PBB mengatakan jumlah tersebut lima kali lipat dari data yang diberikan badan kemanusiaan awal bulan konflik.

"Sekitar 50 ribu orang tewas, mungkin pengungsi berjumlah lebih dari 2,2 juta orang, kelaparan muncul selama beberapa bulan," kata pejabat PBB anonim pada sekelompok kecil reporter. Meski demikian, ia melihat sedikit prospek penerapan kesepakatan damai yang dicapai Agustus.

Perseteruan antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakil presiden Riek Machar telah melecut perang sipil pada Desember 2013. Perang membuka kembali perseteruan etnis antara etnis Dinka yang diwakili Kiir dan Nuer yang diwakili Machar.

Bulan lalu, PBB mengatakan anggota partai tetap melakukan pembunuhan, penculikan, memindahkan warga sipil hingga menghancurkan properti meski Kiir dan Machar mengajukan konsiliasi.

"Kita melihat kekerasan menyebar di seluruh lini etnis di bagian lain Sudan Selatan," kata dia.

Setelah berbulan-bulan negosiasi tidak efektif, kedua pihak sepakat pada Januari untuk berbagi posisi di pemerintahan transisi. Bulan lalu, Kiir memilih kembali Machar di posisi sebelumnya sebagai wakil presiden.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mengatakan Kiir dan Machar akan menghadapi sanksi individual jika mereka tidak mematuhi kesepakatan damai. Penjaga perdamaian PBB telah mengungsikan sekitar 200 ribu orang di enam situs perlindungan.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: Steve Fossett Pecahkan Rekor Terbang Solo Keliling Dunia

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement