Kamis , 20 April 2017, 19:13 WIB

Kapal Tempur AS Menuju Korut Setelah Sempat 'Salah Arah'

Rep: Crystal Liestia Purnama / Red: Ilham
Janes
Kapal perang  Amerika Serikat.
Kapal perang Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Empat armada kapal tempur AS kini menuju Korea Utara setelah sebelumnya berhenti di Australia pada akhir pekan lalu. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyebabkan kebingungan karena pernyataan kelirunya yang mengklaim armadanya sedang menuju Korut pada pekan lalu.

Padahal, sebenarnya kelompok armada tempur itu terlihat berjalan menuju ke arah berlawanan sejauh lebih dari 3.500 mil untuk ikut serta dalam latihan militer dengan Angkatan Laut Australia. Namun, Menteri Pertahanan James Mattis menegaskan, saat ini kelompok kapal tempur USS Carl Vinson sedang menuju ke Pasifik Barat, untuk terus bersiaga di Laut Jepang.

Pada Rabu (19/4), Pentagon mencoba meluruskan kebingungan dengan mengatakan pihaknya selalu terbuka dengan apa yang akan mereka lakukan. Pada kesempatan di Arab Saudi, Mattis menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan apa yang telah mereka katakan.

"Dan saya akan menentukan kapan (kapal) itu sampai di sana dan di mana harus beroperasi. Vinson akan menjadi bagian untuk memastikan kami berdiri di samping sekutu kami di Pasifik baral laut," ujar Mattis, dilansir dari Independent, Kamis (20/4).

Kebingungan itu muncul pada 9 April lalu, saat angkatan Laut AS mengatakan Carl Vinson sedang berjalan dari Singapura menuju Pasifik Barat. Sedangkan dua hari sebelumnya, Trump mengatakan kepada Fox Business bahwa dia sedang mengirim armada kapal tempur ke semenanjung untuk menantang pertempuran.

"Kami mengirimkan armada yang sangat kuat. Kami memiliki kapal selam. Sangat kuat, jauh lebih kuat daripada pesawat amunisi yang saya katakan pada Anda," kata Trump dalam stasiun televisi tersebut.

Adapun juru bicara Gedung Putih Sean Spincer mengaku memiliki armada di Laut Jepang dengan jarak yang menyolok dari Pyongyang. Pernyataan dari Gedung Putih itu meningkatkan ketegangan dengan Pyongyang. Seperti yang digambarkan kantor berita Korut sebagai tindakan agresi sembrono yang memperburuk ketegangan di wilayah tersebut.

Dengan adanya agresi tersebut, media Korut memperingatkan AS tentang adanya serangan nuklir ke AS. Sementara melalui telepon kepada Trump, Presiden Cina Xi Jinping menyerukan resolusi damai atas meningkatnya ketegangan tersebut.

Namun kemudian muncul fakta bahwa saat pernyataan itu disampaikan, sebenarnya kapal-kapal itu tidak benar-benar menuju ke Korut. Melainkan untuk latihan yang dijadwalkan di Samudera Hindia. Lalu pada Selasa, kepada the New York Times, Gedung Putih mengaku pernyataan tersebut didasarkan atas informasi dari Departemen Pertahanan.