Selasa , 25 April 2017, 07:34 WIB

Yenny Wahid: Kemenangan Anies Bukan Kemenangan Islam Garis Keras

Rep: Muhyiddin/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/ Wihdan
Yenny Wahid
Yenny Wahid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur The Wahid Foundation, Yenny Wahid  menegaskan kemengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam penghitungan cepat Pilkada DKI Jakarta bukanlah kemenangan kelompok radikal.

Hal ini disampaikan menyusul pemberitaan media asing yang beranggapan hasil Pilkada DKI merupakan kemenangan kelompok ekstremis.

Yenny mengatakan, meskipun Anies-Sandi didukung oleh kelompok garis keras, mereka juga didukung oleh tokoh-tokoh kristiani yang taat seperti Harry Tanoe dan adik dari Prabowo Subianto yaitu Hasyim Djoyohadikusumo.

"Saya rasa tidak tepat (Pilkada DKI kemenangan kelompok radikal). Setiap kali saya diwawancara oleh media asing, saya selalu katakan bahwa walaupun di belakang Anies banyak kelompok garis keras, namun di sana juga ada teman-teman para tokoh kristiani yang taat," ujar Yenny saat dihubungi Republika.co.id, Senin (24/4).

Kendati demikian, Yenny mengakui, dalam Pilkada DKI Jakarta memang terdapat penggunaan sentimen keagamaan yang selalu eksesif atau berada di luar kebiasaan. Pasalnya, ada beberapa orang yang mudah saling mengkafirkan dan menuduh munafik sesama warga bangsa Indonesia.

"Inilah yang dipotret oleh banyak media asing. Ini yang harus jadi pekerjaan rumah kita semua sebagai umat Muslim. Untuk mengubah citra yang berkembang di dunia bahwa Islam agama teroris, agama yang penuh kekerasan. Kita harus berjuang untuk ubah citra itu menjadi Islam adalah agama yang damai," ucapnya.

Baca juga,  Eep: Bismillah Anies-Sandi Pemenang Pilkada Jakarta.

Putri Mantan Presiden Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menambahkan, untuk mengubah citra Islam yang seperti itu hanya bisa dilakukan jika umat Muslim tidak terjebak pada perilaku kasar dan keras.

Karena itu, Yenny pun mengajak agar umat Islam kembali mengedepankan akhlakul karimah dalam ukhuwah dengan non Muslim, sehingga bisa mengubah wajah Islam di dunia. "Dan hanya umat Islam di Indonesia yang bisa melakukan itu. Bukan umat Islam di negara lain. Insya Allah kita bisa," katanya.