Sabtu , 20 Mei 2017, 09:55 WIB

Pengamat Cina: Indonesia Berpotensi Besar Diajak Kerja Sama

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Esthi Maharani
Antara/Bayu Prasetyo
Presiden Joko Widodo (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kanan) saat pertemuan bilateral disela-sela menghadiri Belt and Road Forum di Gedung Great Hall of the People, Beijing, Minggu (14/5).
Presiden Joko Widodo (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kanan) saat pertemuan bilateral disela-sela menghadiri Belt and Road Forum di Gedung Great Hall of the People, Beijing, Minggu (14/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekjen China Institute of International Studies (CIIS), Yang Yi menggarisbawahi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia. Meski demikian, Indonesia dapat memainkan peranan penting dalam dunia internasional.

"Indonesia adalah negara ASEAN satu-satunya yang masuk G20," kata Yang dalam acara Jakarta Geopolitical Forum di Jakarta, Jumat (19/5). Sehingga Indonesia sangat berpotensi besar untuk diajak kerjasama dalam berbagai bidang baik bidang ekonomi, perdagangan hingga kemaritiman. Menurutnya, Indonesia dengan Cina dapat berperan lebih jauh di kawasan Asia Tenggara dan dunia. Hubungan kedua negara selama ini telah terjalin dengan baik.

"Salah satunya kerjasama pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung," kata Yang Yi.

Meski demikian ia mengakui masalah Laut Cina Selatan telah membuat negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia bersitegang dalam hubungan diplomatik. Namun menurutnya masalah itu dapat diselesaikan dengan segera. Persoalan Laut Cina Selatan sudah dibahas Presiden Jokowi ketika bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing minggu lalu.

Mereka membicarakan masalah pertahanan dan keamanan, termasuk kerjasama dalam pengamanan Laut Cina Selatan. "Presiden Jokowi akan mengajak negara-negara ASEAN untuk turut membicarakan masalah tersebut," kata Yang Yi.