Selasa 30 May 2017 10:54 WIB

Iklan Burger King Sulut Kemarahan Kerajaan Belgia

Rep: Halimatus Sa'diah/ Red: Bilal Ramadhan
Mantan Raja Belgia Albert II (kanan) dan puteranya Raja Philippe pada sebuah acara di Belgia
Foto: Reuters
Mantan Raja Belgia Albert II (kanan) dan puteranya Raja Philippe pada sebuah acara di Belgia

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Kerajaan Belgia dibuat murka oleh iklan milik perusahaan fast food terkenal asal Amerika, Burger King. Ini lantaran iklan tersebut mengajak warga Belgia untuk memilih dan mendaulat Burger King sebagai raja Belgia yang sesungguhnya.

Juru bicara Raja Belgia, Pierre-Emmanuel De Bauw mengaku telah meminta klarifikasi pada perwakilan Burger King unit Belgia. "Kami katakan pada mereka bahwa kerajaan merasa terganggu dengan penggunaan gambar Raja pada iklan promosi Burger King." De Bauw menambahkan, simbol kerajaan tidak boleh digunakan untuk aktivitas komersil.

Sementara itu, juru bicara Burger King Belgia, Shana Van den Broeck menyatakan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengganti konten iklan. "Apabila kami mengganti iklan promosi tersebut, kami pasti akan menginfokan."

Iklan Burger King yang memicu kemarahan Kerajaan Belgia pertama kali dirilis pada bulan ini. Iklan berbentuk animasi tersebut memperlihatkan gambar Raja Philippe yang dinobatkan pada 2013 lalu. Dalam iklan itu, Burger King mengumumkan bahwa mereka akan segera membuka restoran di bulan ini.

Promosi tersebut kemudian diikuti dengan pernyataan bahwa ada dua raja, Raja Philippe dan Raja Burger (Burger King). Namun, hanya ada satu mahkota. Masyarakat diajak melakukan voting secara online untuk memilih siapa yang pantas mendapat mahkota tersebut.

Lalu, siapa pun yang memberikan suaranya untuk Raja Philippe akan mendapat sederet pertanyaan, seperti "Kamu yakin? Dia bahkan tidak akan pernah memasak kentang goreng untukmu."

Lelucon dalam promosi Burger King tersebut bisa jadi telah membangkitkan sensitifitas warga di Ibu Kota Brussels. Sebab, pada 1950, warga Belgia pernah melakukan referendum yang mengusulkan penghapusan sistem kerajaan di negara tersebut saat penguasaan oleh Nazi. Saat itu, Belgia tengah dipimpin oleh Leopold III, kakek dari Raja Philippe. Pada akhirnya, Leopold dipaksa untuk turun takhta demi anaknya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement