Senin 17 Jul 2017 02:27 WIB

Mayoritas Warga Inginkan Theresa May Mengundurkan Diri

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Indira Rezkisari
Perdana Menteri Inggris Theresa May memberi pernyataan di 10 Downing Street terkait serangan teror di Gedung Parlemen Inggris, Rabu malam (22/3).
Foto: Richard Pohle/Pool via AP Photo
Perdana Menteri Inggris Theresa May memberi pernyataan di 10 Downing Street terkait serangan teror di Gedung Parlemen Inggris, Rabu malam (22/3).

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Mayoritas warga Inggris menginginkan Perdana Menteri Theresa May mengundurkan diri sebelum pemilu berikutnya diselenggarakan. Hal ini diungkapkan lembaga survei Opinium yang melakukan jajak pendapat mengenai Perdana Menteri May.

Sekitar 57 persen warga Inggris yang disurvei, menginginkan May untuk mengundurkan diri sebelum pemilu. Sedangkan sebanyak 33 persen menginginkan May untuk mengundurkan diri sekarang juga.
 
Pemilu Inggris berikutnya dijadwalkan akan diadakan pada 2022. Namun banyak yang percaya, pemilu akan diselenggarakan lebih cepat karena Partai Konservatif terus melemah setelah kehilangan suara mayoritas mereka.
 
Menurut Opinium, hanya sekitar 16 persen warga Inggris yang meminta May untuk tetap menjabat sebagai Perdana Menteri sampai negosiasi untuk meninggalkan Uni Eropa selesai. May diketahui menghadapi kekalahan memalukan atas Brexit.
 
Partai Buruh memperingatkan bahwa mereka dapat menentang rancangan undang-undang (RUU) yang dikeluarkan May untuk melepaskan diri dari Uni Eropa, kecuali jika May membuat perubahan signifikan terhadap Brexit. Sekretaris Bayangan Brexit Keir Starmersaid mengatakan pemerintah dituntut untuk memberikan perlindungan untuk hak-hak pekerja.
 
Rating May turun sebanyak 21 poin dan rating Jeremy Corbyn menguat sebanyak empat persen. Namun, sebanyak 36 persen warga Inggris masih percaya May dapat menjadi Perdana Menteri yang baik, sedangkan Corbyn hanya mendapat 33 persen untuk pernyataan yang sama.
 
"Dukungan untuk May telah berkurang dan tidak ada antusiasme bagi politisi Konservatif senior lainnya untuk mengambil kendali, sehingga menghadirkan dilema bagi partai tersebut," ujar Kepala Politik Opinium, Adam Drummond.
 
"Dalam temuan kami, pemilih Inggris kemungkinan besar melihat Boris Johnson akan menjadi Perdana Menteri Konservatif di masa depan," tambah dia, dikutip The Independent.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement