Senin , 17 Juli 2017, 18:28 WIB

Lebih dari 80 Ribu Anak Rohingya Kekurangan Gizi Akut

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Agus Yulianto
AP Photo/Gemunu Amarasinghe
Anak-anak etnis Muslim Rohingya di pengungsian.
Anak-anak etnis Muslim Rohingya di pengungsian.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON – Lebih dari 80 ribu anak di bawah usia lima tahun yang tinggal di wilayah mayoritas Muslim di Myanmar barat terbuang dan akan memerlukan perawatan untuk kekurangan gizi akut selama tahun depan. Data tersebut dirilis dari Program Pangan Dunia (WFP).

Laporan dari PBB didasarkan pada penilaian terhadap desa-desa negara bagian Rakhine barat, di mana sekitar 75 ribu orang Muslim Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan telah melarikan diri dari tindakan keras tentara Myanmar. Sementara mereka yang masih tinggal sekarang terguncang krisis pangan. WFP menemukan sepertiga rumah tangga yang ada di Maungdaw, satu distrik yang terkena dampak kekerasan, mengalami kekurangan pangan ekstrim.

Mereka bahkan tidak makan selama 24 jam. Seperempst dari rumah tangga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa perempuan karena orang-orang tersebut telah pergi karena operasi militer pemerintah. Menurut WFP, rumah tangga ini memiliki frekuensi kelaparan berat terbanyak.

Menurut penemuan mereka, tidak ada anak di bawah usia dua tahun yang memenuhi persyaratan diet yang memadai. Sementara 225 ribu orang memerlukan bantuan kemanusiaan. “Diperkirakan 80.500 anak di bawah usia lima tahun membutuhkan pengobatan karena kekurangan gizi akut selama dua belas bulan ke depan,” kata laporan WFP.

Seorang juru bicara WFP mengatakan bahwa krisis ini menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan dapat menjadi fatal, yang dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh. “Survei tersebut telah mengkonfirmasi memburuknya situasi keamanan pangan di daerah yan sudah sangat rentan menyusul insiden keamanan dan terjadi kekerasan pada akhir 2016,” kata laporan tersebut.

Pada Oktober tahun lalu serangan militer Rohingya terhadap polisi perbatasan memicu pembalasan tentara di mana pasukan pemerintah telah menggunakan helikopter untuk menyerang desa-desa.

Seperti laporan dari The Guardian, Senin (17/7). WFP juga menemukan bahwa daerah yang terkena dampak kekerasan, hampir setengah dari pasarnya tidak berfungsi. Sehingga harga pangan fluktuatif, dan pasokan ikan kering yang terjangkau, yang menjadi sumber protein utama mereka langka. WFP memperkirakan dalam keadaan seperti ini dan dengan musim hujan mendatang yang dapat memperburuk situasi yang sudah rentan, membuat mereka kesulitan mengakses makanan yang cukup dalam jangka panjang. Dan mereka akan bergantung pada bantuan kemanusiaan dalam waktu dekat.






Berita Terkait