Sabtu , 12 Agustus 2017, 18:29 WIB

Pengamat: Ketegangan AS-Korut Seperti Krisis Kuba

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Teguh Firmansyah
EPA
Peluncuran rudal korut.
Peluncuran rudal korut.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina harus tetap netral jika Korea Utara melancarkan serangan ke Amerika Serikat. Hal ini disampaikan sebuah surat kabar yang dikelola Pemerintah Cina.

Surat kabar itu  juga memberikan peringatan kepada Pyongyang atas  rencananya untuk menembakkan rudal ke Guam, AS. Presiden AS mengancam Korut dengan mengatakan, akan menghujani api dan kemarahan pada Pyongyang. "Situasi ini mulai berkembang menjadi momentum seperti krisis Kuba, " kata Kepala Ekonom ING, Robert Carnell, kemarin.

Presiden AS, jelas dia, bersikeras meningkatkan perang kata-kata. Ini membuat ada kemungkinan penurunan solusi diplomatik manapun. Cina, sekutu dan mitra dagang Korut yang paling penting menegaskan kembali seruan untuk tenang kepada AS dan Korut selama krisis saat ini.

Beijing menyatakan frustrasinya dengan uji coba nuklir dan rudal Pyongyang yang berulang dan sikap Korea Selatan, AS, yang terus melakukan latihan militer. Ini membuat ketegangan meningkat.

"Cina harus menjelaskan jika Korut meluncurkan rudal yang mengancam AS terlebih dahulu dan AS membalas, maka  Cina akan tetap netral," kata Global Times yang banyak dibaca namun tidak mewakili kebijakan pemerintah.

"Jika AS dan Korsel melakukan serangan untuk menggulingkan rezim Korut dan mengubah pola politik Semenanjung Korea, maka Cina akan mencegah mereka melakukannya," ujar Global Times.

Kementerian Luar Negeri Cina mengulangi seruan kepada semua pihak untuk berbicara dan bertindak dengan hati-hati dan berbuat lebih banyak untuk meringankan krisis. Ini perlu dilakukan daripada  melakukan unjuk kekuatan dan membuat ketegangan terus meningkat.