Ahad , 13 August 2017, 23:26 WIB

Ancaman Trump Dinilai Bisa Selamatkan Maduro

Red: Teguh Firmansyah
Reuters
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Ancaman penyerangan oleh Presiden Amerika Serikat terhadap Venezuela justru berpeluang menyelamatkan kedudukan Presiden Nicolas Maduro yang sebenarnya sudah berada di ujung tanduk. Maduro sering memanfaatkan ancaman serangan Amerika Serikat untuk membenarkan kebijakan kerasnya.

"Ucapannya justru menguntungkan Maduro sekaligus memperkuat posisi nasionalisnya," kata Luis Alberto Reodriguez, pengacara, yang sore itu duduk di kafe sambil menghisap cerutu Kuba di kawasan elit Caracas.

"Ini selalu menjadi bagian dari retorika Maduro dan Chavez. Mereka diuntungkan," kata dia. "Pemerintah akan menggunakan ancaman itu untuk menyatukan rakyat dan menyerang oposisi."

Maduro meneruskan revolusi sosialis dengan subsidi besar-besaran, yang dimulai pendahulunya, Hugo Chavez, sekitar 20 tahun lalu. Keduanya juga selalu berpidato tentang ancaman  Amerika Serikat yang dituding berencana merampok minyak Venezuela.

Kelompok oposisi semula menertawakan pemikiran berbau persekongkolan tersebut. Namun, pada Jumat malam, Trump mengatakan bisa saja memilih tindakan militer untuk menghentikan krisis sosial Venezuela serta penanganan terlalu keras terhadap musuh politik pemerintahan.

Pengikut Maduro, yang sering menghina kelompok oposisi sebagai boneka Washington, langsung menanggapi pernyataan Trump. "Urus saja masalahmu sendiri, tuan Trump," kata anak sang presiden, yang juga bernama Nicolas Maduro, saat berpidato di depan Dewan Konstituante, sebuah lembaga yang baru dipilih bulan lalu untuk menyusun undang-undang dasar baru.

"Jika Venezuela diserang, maka senapan kami akan tiba ke New York, tuan Trump. Dan kami akan mengambil alih Washington," kata dia.

Sementara itu, unjuk rasa menentang Maduro kembali digelar pada Sabtu, dengan diwarnai sedikit bentrokan pengunjuk rasa dengan pasukan keamanan.

Sejauh ini, sudah lebih dari 120 orang yang tewas akibat gelombang kerusuhan yang melanda Venezuela sejak April lalu, di tengah ambruknya perekonomian dengan inflasi lebih dari 100 persen, dan diperparah oleh kelangkaan bahan makanan serta obat-obatan.

Sumber : Antara