Selasa , 22 August 2017, 17:56 WIB

Dua Menko RI Kunjungi Beijing, Ini Kata Pengamat Asal Cina

Red: Teguh Firmansyah
Hubungan Indonesia dan Cina (Ilustrasi)
Hubungan Indonesia dan Cina (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Para pengamat politik di Cina melihat petemuan State Council dengan dua menteri koordinator dari Indonesia sangat penting dalam upaya meningkatkan kemitraan kedua negara.

"Hubungan dengan Indonesia menunjukkan peningkatan dan kedua belah pihak memiliki banyak kesempatan untuk menjalin kerja sama di segala bidang," demikian laporan media resmi Cina menyimpulkan pendapat para pengamat, Selasa.

State Councilor Yang Jiechi mengundang Menko Polhukam Wiranto dan Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk bersama-sama menggelar pertemuan keenam di Beijing pada Senin (21/8) dan Selasa.

Pertemuan tingkat menko dalam kerangka mekanisme dialog Cina-Indonesia tersebut berlangsung secara tertutup.
"Cina sangat berkepentingan dalam menjalin kemitraan dengan Indonesia, karena Indonesia merupakan salah satu negara ekonomi terbesar di ASEAN," kata asisten peneliti di China Institutes of Contemporary International Relations, Luo Yongkun.

Kepada harian Global Times, Luo juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki pengaruh yang besar di kawasan Asia Tenggara.

Sebaliknya, menurut pendapat Gu Xiaosong, pakar Asia Tenggara di Guangxi Academy of Social Sciences,
Cina juga telah menjadi negara terbesar ketiga dalam menginvestasikan dananya ke Indonesia. Beijing juga penyokong wisatawan asing terbesar ke sejumlah objek wisata di Nusantara,

Cina dan Indonesia juga terlibat dalam proyek infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung. Luo mengingatkan bahwa kedua negara seharusnya juga menjalin hubungan kemitraan melalui pertukaran budaya dan pendidikan.
"Masyarakat Indonesia tahu Cina dari media-media Barat yang tentu saja sering kali informasinya menyesatkan," ucapnya.

Namun menurut dia, situasi telah berubah perlahan setelah kedua pemerintahan tersebut membuka banyak kesempatan pertukaran antarmasyarakat kedua negara. Para pengamat itu juga menyarankan kedua pemerintah saling berbagi informasi mengenai kebijakan masing-masing seperti masalah perikanan.

"Keduanya harus saling memahami perbedaan untuk menghindari hal-hal (di bidang perikanan) yang tidak diinginkan," ujar Luo, menambahkan.

Kedua pemerintahan sempat bersilang pendapat terkait insiden penangkapan kapal di perairan Laut Cina Selatan sekitar Pulau Natuna pada Juni 2016. Seorang awak kapal pencari ikan dari Cina terluka, sedangkan kapalnya diamankan aparat dari Indonesia.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan bahwa pertemuan Yang Jiechi sebagai pejabat setingkat menko dengan Wiranto dan Darmin Nasution merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Jowo Widodo di sela-sela Forum Kerja Sama Internasional Jalur Maritim dan Jalur Sutera Baru (Belt and Road) di Beijing pada pertengahan Mei 2017.

"Kedua kepala negara telah mencapai kesepakatan penting untuk memperkuat strategi bersama dan kerja sama dalam kerangka 'Belt and Road'," tutur diplomat perempuan itu.

Sumber : Antara