Sabtu , 26 August 2017, 10:20 WIB

Senin Depan, Tokoh Agama AS Demo Trump

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Reiny Dwinanda
AP
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemuka agama Kristen AS, Alfred Charles Sharpton Jr., menyeru lebih dari 1.000 pemimpin dari berbagai agama untuk menggelar aksi pada Senin (28/8) mendatang di Washington. Ia berharap aksi ini jadi pendekatan moral bagi perbaikan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Demonstrasi yang bertajuk "Seribu Agamawan Turun Kejalan Demi Keadilan" di depan Martin Luther King Jr. Memorial ini bertepatan dengan peringatan 54 tahun aksi unjuk rasa menuntut lapangan kerja yang lebih luas dan kebebasan. Kala itu, King menyampaikan pidato legendaris "I Have a Dream".

Sharpton mengungkapkan aksi Senin depan sudah direncanakan jauh sebelum aksi para tokoh supremasi kelompok putih yang berujung ricuh pada awal bulan ini di Charlottesville. Meski begitu, Sharpton tak memungkiri aksi tersebut makin menyemangati rencana aksi pada Senin mendatang.

''Charlottesville memberi energi baru. Banyak yang menyebut inilah saatnya untuk menyampaikan pernyataan moral,'' kata Sharpton seperti dikutip the Washington Post, Jumat (25/8).

Sharpton menyatakan, bila Trump menyerukan persatuan, warga AS akan menunjukkannya.

Berdasarkan izin yang dikeluarkan Pusat Layanan Taman Nasional, aksi ini akan dimulai pada pukul 10 pagi waktu setempat di dekat Martin Luther King Memorial di barat lapangan polo Potomac.

Mereka akan mengadakan doa bersama dan membacakan pernyataan sikap. Peserta aksi kemudian akan berjalan kaki ke Departemen Hukum. Aksi ini akan dihadiri tokoh Yahudi, Kristen, dan Muslim.

''Kami mengajak semua pemuka agama untuk membuat pernyataan moral. Ada beberapa isu moral yang tidak bisa dinegosiasikan,'' kata Sharpton.

Direktur Religious Action Center of Reform Judaism, Jonah Pesner mengatakan, penting bagi para pemimpin Yahudi untuk datang pada aksi Senin mendatang. Pesner merupakan satu dari sekian banyak rabi yang menolak hadir dalam konferensi tahunan yang dihadiri Trump pasca aksi di Charlottesville.

''Kami pastikan semua orang merasakan keadilan dan kesetaraan. Ini tugas kami melawan tekanan, rasisme, dan kebencian dalam berbagai bentuk,'' ungkap Pesner.

Sharpton dan Trump punya cerita panjang. Dalam kasus Central Park  pada 1989, Sharpton membela lima pemuka kulit hitam yang dituding menyerang seorang wanita kulit putih yang sedang jogging di Central Park. Sementara Trump, melalui surat terbuka, meminta lima pemuda itu dihukum mati. Kelima pemuda itu akhirnya dibebaskan pada 2002 setelah akhirnya seorang pria mengaku menyerang wanita malang tersebut.