Kamis , 14 September 2017, 02:30 WIB

Rudal Nuklir Korut 17 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Rep: Sri Handayani / Red: Reiny Dwinanda
EPA / KCNA
Uji coba rudal balistik yang dilengkapi dengan sistem panduan presisi, di lokasi yang dirahasiakan di Utara Korea.
Uji coba rudal balistik yang dilengkapi dengan sistem panduan presisi, di lokasi yang dirahasiakan di Utara Korea.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Rudal nuklir yang diujicobakan Korea Utara pada awal bulan ini bisa jadi lebih kuat dari yang sebelumnya diperkirakan. Washington Post melaporkan, berdasarkan analisis terbaru kelompok pengawas AS, serangan itu 17 kali lebih kuat dari bom yang menghancurkan Hiroshima.

Uji coba nuklir Korea Utara pada 3 September lalu merupakan yang keenam kali dilakukan. Washington Post mengabarkan ini merupakan uji coba nuklir yang terbesar dan memperlihatkan adanya perkembangan dalam program nuklir dan misil Korea Utara.

Sebelumnya, jumlah total energi yang dilepaskan dari ledakan diestimasikan mencapai 100 kiloton. Sebagai perbandingan, bom yang diledakan di Hiroshima pada 1945 mengeluarkan hanya 15 kiloton energi.

Namun, analisis terbaru dari 38 North yang dijalankan Institut AS-Korea di Johns Hopkins School of Advanced International Studies, menunjukkan kekuatan senjata nuklir Korea Utara jauh lebih kuat.

Data seismik terbaru menunjukkan magnitude yang dihasilkan lebih kuat dari estimasi pertama, yaitu antara 6,1 dan 6,3 skala Richter. Getaran sekuat itu hanya bisa diproduksi oleh ledakan energi berdaya ratusan kiloton.

Frank V Pabian, Joseph S.Bermudez J, dan Jack Liu dari 38 North mengatakan uji coba nuklir terbaru Korea Utara menghasilkan ledakan sekitar 250 kiloton. 

Baca juga: Korut akan Gandakan Kekuatan untuk Lawan AS

Dengan kata lain, uji coba Korea utara mungkin sudah hampir 17 kali lebih kuat dibandingkan ledakan Hiroshima. Ini mendekati perhitungan North 38 yang menyatakan ini sebagai hasil maksimum yang bisa terkandung di lokasi uji bawah tanah Punggye-ri.

Perkiraan baru dari 38 North jauh lebih tinggi dari pemerintah AS dan sekutu-sekutunya saat itu. Penilaian intelijen AS menyebutkan ledakan itu berukuran 140 kiloton, Jepang dengan 160 kiloton dan Korea Selatan menyatakan angka 50 kiloton.

Citra satelit menunjukkan hasil tes tersebut menghasilkan banyak tanah longsor daripada lima uji coba sebelumnya.

Korea Utara menggambarkan perangkat yang diledakkan sebagai bom hydrogen yang dirancang untuk dibawa dengan rudal jarak jauh yang mampu mencapai daratan AS.

Masyarakat internasional secara luas mengecam uji coba tersebut. Dalam waktu 10 hari, Dewan Keamanan PBB menyetujui sanksi terberat bagi Korea Utara.

Setelah uji coba Korea Utara, baik AS maupun Korea Selatan mulai menyoroti kesiapan militer masing-masing.

Menteri Pertahanan Jim Mattis pekan lalu melakukan perjalanan ke Pangkalan Angkatan Udara Minot di North Dakota.  Ini merupakan pusat persenjataan nuklir Amerika dengan lebih dari 100 rudal dan pesawat tempur berbasis darat. 

Sementara itu, Angkatan Udara Korea Selatan Rabu lalu juga untuk pertama kalinya melakukan latihan militer bersenjata guna menguji kemampuan mempertahakan diri dari serangan.