Kamis , 14 September 2017, 19:30 WIB

Bantuan Indonesia untuk Muslim Rohingya Sampai di Bangladesh

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/Debbie Sutrisno
Pesawat bantuan untuk masyarakat Rohingya akan diberangkatkan ke Chittagong, Bangladesh, Kamis (14/9).
Pesawat bantuan untuk masyarakat Rohingya akan diberangkatkan ke Chittagong, Bangladesh, Kamis (14/9).

REPUBLIKA.CO.ID, CHITTAGONG -- Bantuan kemanusiaan yang dikirim pemerintah Indonesia untuk masyarakat Rohingya di Bangladesh akhirnya tiba. Barang berupa tenda, selimut, beras, dan makanan lain tiba terlebih dahulu dengan dua pesawat Hercules.

Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh Rina Soemarno mengatakan, pemerintah Bangladesh sudah menanti bantuan yang akan dikirimkan Pemerintah Indonesia. Meski terdapat sejumlah kendala administrasi, tapi bantuan ini sudah sangat ditunggu.

Setelah diturunkan dari pesawat, barang bantuan ini terlebih dahulu disimpan digudang. Setelah melalui pengecekan barulan bantuan ini bisa di bawa ke Cox Bazar yang merupakan kota terdepat dari kamp pengungsian.

"Kita akan kirim secepatnya ke sana (Cox Bazar). Tapi tetap kita harus menyelesaikan semua administrasi dulu. Karena kita kirim barang juga menggunakan jasa ekspedisi," kata Rina Soemarno, Kamis (14/9).

Jalan menuju Cox Bazar dari Chittagong cukup lama. Dengan jarak tempuh mencapai 170 km, maka waktu yang diperlukan bisa memakan tujug sampai delapan jam melalui jalur darat.

Rina menjelaskan, kondisi pengungsi di kamp dengan Cox Bazar memang sangat memprihatinkan. Kamp penampungan yang sudah dibangun tidak mencukupi lagi bagi pengungsi yang terus berdatangan.

Pengungsi Rohingya ada yang harus tidur di bawah tenda dadakan yang dibuat dari bambu dan terpal. Tenda ini sewaktu-waktu bisa rubuh ketika diterjang hujan deras atau angin kencang. Untuk itu adanya tenda dari Indonesia diharap bisa memberikan tempat berteduh yang lebih baik.

Kondisi di kamp pengungsian pun cukup memprihatinkan. Kawasan yang sangat becek dan minim penerangan membuat masyarakat Rohingya sulit beraktivitas. Belum lagi suplai makanan yang terbatas bagi mereka. "Mereka sudah sangat memprihatinkan karena mulai terserang penyakit," ujarnya.