Jumat , 15 September 2017, 00:29 WIB

Pusat Pertambangan Bauksit di Guinea Rusuh

Rep: Puti Almas/ Red: Budi Raharjo
IST
Tambang Bauksit (ilustrasi)
Tambang Bauksit (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,CONAKRY -- Pasukan keamanan Guinea melepaskan tembakan dalam kerusuhan yang terjadi di sebuah pusat pertambangan di negara itu, Rabu (13/9). Dalam kejadian itu, satu orang dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka.

Pusat tambang bauksit yang didirikan oleh perusahaan Societe Miniere de Boke (SMB) tersebut telah dianggap gagal meningkatkan perekonomian masyarakat Guinea. Padahal, setiap tahunnya 15 juta ton bijih alummunium diekstrasi oleh perusahaan pertambangan terbesar di Afrika Barat ini.

Akibatnya, protes bermunculan dari warga Guinea. Mereka memulai aksi demonstrasi dengan mendatangi dan hendak memasuki pusat pertambangan secara paksa.

Kemudian, pos keamanan di sekitar lokasi pertambangan dijarah. Para peserta aksi protes juga memblokir jalan-jalan di sekitar area untuk mencegah pekerja tambang memasuki area tugas mereka.

Tembakan kemudian terpaksa dilepas untuk menghentikan kerusuhan yang semakin meningkat. Pihak perusahaan SMB juga mengatakan ketegangan begitu terasa dan membuat aktivitas di lokasi pertambangan tidak bisa berjalan.

"Keteganhan begitu meningkat dan banyak karyawan kami yang hingga saat ini belum dapat kembali bekerja karena operasi kegiatan dasar yang sempat tertunda," ujar general manajer SMB Frederic Bouzigues, Kamis (14/9).

Sebelumnya, kerusuhan serupa juga pernah terjadi dalam aksi protes terhada[ Boke pada akhir April lalu. Saat itu, sejumlah pemuda datang dan menghancurkan sejumlah gedung pemerintahan Guinea. Mereka kemudian didorong mundur oleh pasukan keamanan dengan tembakan dan setidaknya satu orang tewas.

Guinea menjadi salah satu negara penghasil bauksit terbesar di dunia. Namun, negara di Afrika ini masih tercatat memiliki perekonomian yang buruk dengan tingkat kemiskinan serta pengangguran yang tinggi.

Termasuk di area pertambangan Boke, banyak warga yang dinilai tidak mendapatkan kesejahteraan dari hasil kekayaan bauksit tersebut. Mereka hidup dengan perekonomian jauh di bawah rata-rata, bahkan beberapa tidak mampu menggunakan listrik untuk tempat tinggal mereka. Polusi dari debu dan limbah pabrik juga menjadi hal yang dikeluhkan banyak warga sekitar pertambangan.