Senin , 25 September 2017, 17:24 WIB

Pesawat Tempur AS Dekati Wilayah Korut

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
US Air Force, Staff Sgt Bennie J Davis III
Pesawat Pembom jenis B-1 Milik AS (Ilustrasi)
Pesawat Pembom jenis B-1 Milik AS (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pesawat pembom B-1B dari Guam, bersama pendamping pesawat tempur F-15C Eagle dari Okinawa, Jepang, terbang di wilayah udara internasional melintasi perairan timur Korea Utara (Korut) pada Sabtu (23/9). Pentagon mengatakan, misi ini menunjukkan betapa seriusnya Presiden AS Donald Trump dalam menanggapi perilaku ceroboh Korut.

"Misi ini adalah sebuah pesan yang jelas bahwa presiden memiliki opsi militer untuk menghadapi ancaman apapun," kata juru bicara Departemen Pertahanan AS, Dana White, dalam sebuah pernyataan, dikutip Time.

"Program senjata nuklir Korut merupakan ancaman serius bagi kawasan Asia Pasifik dan seluruh masyarakat internasional. Kami siap menggunakan seluruh kemampuan militer untuk mempertahankan tanah air AS dan sekutu kami," tambah White.

Misi ini juga menujukkan perluasan Zona Demiliterisasi, yang belum pernah dilakukan oleh pesawat tempur AS ke pantai Korut di abad ke-21 ini. Pesawat pembom B-1 tidak lagi menjadi bagian dari kekuatan nuklir angkatan udara AS, namun pesawat ini mampu menjatuhkan sejumlah besar bom konvensional.

Saat sidang Majelis Umum PBB, Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong Ho, mengatakan, tujuan utama pengembangan senjata nuklir negaranya adalah untuk menyeimbangkan kekuatan dengan AS. Dia juga mengatakan, julukan "Rocket Man" yang diberikan Trump kepada pemimpin Korut Kim Jong-un membuat serangan roket ke AS tidak terelakkan lagi.

Pada Kamis (21/9), Trump mengumumkan lebih banyak sanksi ekonomi terhadap Korut. AS menargetkan, perusahaan asing yang bekerja sama dengan negara terisolasi itu.

"Perkembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan di dunia kita dan tidak dapat diterima jika ada pihak yang mendukung rezim kriminal ini secara finansial," kata Trump.


Berita Terkait