Jumat , 06 Oktober 2017, 17:20 WIB

Warga Australia Serahkan 51 Ribu Senjata Gelap

Red: Teguh Firmansyah
Antara
Senjata (ilustrasi)
Senjata (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY  -- Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengatakan, sekitar 51 ribu senjata api gelap diserahkan dalam amnesti tiga bulan yang berakhir pada Jumat (6/10). Angka ini merupakan seperlima dari seluruh senjata gelap di negara tersebut.

Turnbull mengatakan, undang-undang kepemilikan senjata Australia yang melarang semua senapan serbu semi-otomatis dan pistol semi-otomatis, sangat membatasi kemungkinan penembakan massal seperti yang terjadi di Las Vegas.

"Penembak di sana (Las Vegas) memiliki kumpulan senjata semi-otomatis, sedangkan tidak seorang pun dapat memilikinya dengan mudah di Australia," kata Turnbull kepada wartawan di Sydney.

Penembak asal Amerika Serikat, Stephen Paddock, 64, memiliki sejumlah senapan serbu dan melepaskan tembakan di pesta musik "country" di Las Vegas dari jendela hotel bertingkat tinggi pada Ahad.  Serangan itu menewaskan 58 orang sebelum menembak dirinya dalam penembakan paling mematikan dalam sejarah negara itu.

Penembakan tersebut membuat Amerika Serikat memusatkan perhatian pada peraturan kepemilikan senjata.
Undang-undang kepemilikan senjata Australia diajukan setelah kejadian pembantaian 35 orang oleh seorang pria bersenjata dalam aksi tunggal di bekas koloni penjara Port Arthur di negara bagian Tasmania pada 1996.

Amnesti tiga bulan merupakan yang pertama dalam kurun 20 tahun di Australia, dan senjata yang dikumpulkan akan dihancurkan. Di antara senjata tersebut terdapat senapan abad ke-19, senapan mesin rakitan, peluncur roket dan pistol seukuran telapak tangan.

Sumber : Antara

Berita Terkait