Senin , 16 October 2017, 13:28 WIB

Sebastian Kurz, Pemuda Milenial Anti-Islam yang Bakal Jadi Kanselir Austria

Red: Ani Nursalikah
EPA
Pemimpin People's Party Austria Sebastian Kurz bersama kekasihnya Susanne Thier setelah memberi suara di pemilu parlemen di Wina, Austria, Ahad (15/10).
Pemimpin People's Party Austria Sebastian Kurz bersama kekasihnya Susanne Thier setelah memberi suara di pemilu parlemen di Wina, Austria, Ahad (15/10).

REPUBLIKA.CO.ID, WINA -- Sebastian Kurz tampaknya menentang anggapan umum yang menganggap pemuda milenial hanya bisa bersenang-senang tanpa memikirkan masa depan.

Menteri Luar Negeri Austria tersebut digadang-gadang akan menjadi kanselir Austria. Jabatan itu akan membawa pria 31 tahun tersebut sebagai pemimpin termuda di Uni Eropa, bahkan di dunia.

Kurz dua tahun lebih muda dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan delapan tahun lebih muda dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Kurz yang dikenal dengan rambut gelapnya yang selalu tertata rapi ke belakang ini menjadi menteri luar negeri pada 2013 saat usianya 27 tahun.

Kurz dari People's Party mengklaim kemenangannya merupakan hasil akhir pemilihan sebagaimana yang diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri Austria. Dilansir dari USA Today, Senin (16/10), People's Party tercatat unggul dalam sejumlah penghitungan suara.
 
People's Party tercatat memperoleh 31,4 persen suara, menurut Menteri Dalam Negeri Wolfgang Sobotka. Perolehan ini naik sebesar tujuh persen dibandingkan hasil pemilihan pada 2013.
 
Sementara itu, Freedom Party yang merupakan partai sayap kanan berada di posisi kedua dengan perolehan suara sebesar 27,4 persen. Partai tengah-kiri Social Democratic Party yang saat ini berkoalisi dengan People's Party dalam pemerintahan di Austria mendapatkan 26,7 persen suara.

"Saya benar-benar terkesima. Kita membuat hal yang tak mungkin menjadi nyata. Terima kasih atas komitmen kalian dan kesuksesan bersejarah ini," katanya kepada pendukungnya usai pemungutan suara ditutup.

Tapi tanpa suara mayoritas, Kurz yang menjadi pemimpin partai pada 14 Mei lalu perlu membentuk koalisi untuk memerintah. Dia berulang kali menolak mengatakan pilihan mana yang dia sukai. Dia menambahkan ingin menunggu hasil hitungan surat suara terlebih dulu.

Pemilu parlemen Austria digelar satu tahun lebih awal menyusul pecahnya koalisi besar pemerintah pada Mei lalu. Social Democratic Party dan People's Party setuju menggelar pemilu bersama partai lain di parlemen setelah berbulan-bulan ketidakjelasan yang disebabkan sengketa kebijakan dan perselisihan internal di tubuh People's Party.

Koalisi dua partai tersebut telah memimpin Austria selama 44 dari 72 tahun setelah terbentuknya sebuah pemerintahan persatuan nasional pada 1945, satu dekade sebelum Austria memperoleh kemerdekaan penuh dari Jerman.

Baca: Menlu Austria Sebastian Kurz Jadi Pemimpin Termuda Eropa

Sumber : AP/Reuters