Selasa , 17 Oktober 2017, 12:58 WIB

Trump: Kesepakatan Nuklir Iran Mungkin Dihentikan Total

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah
EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Donald Trump
Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin(16/10), mengatakan penghentian total terhadap kesepakatan nuklir Iran dimungkinkan dilakukan. Trump telah mencabut dukungannya terhadap kesepakatan nuklir tersebut dan memberi waktu kepada Kongres AS apakah akan menjatuhkan sanksi kepada Iran.

"Saya merasa sangat yakin dengan apa yang telah saya capai. Saya telah mendapatkan keuntungan dari itu. Ini mungkin penghentian total (kesepakatan nuklir Iran), kemungkinan yang nyata, beberapa orang mengatakan itu kemungkinan yang lebih besar," ujar Trump, dikutip laman Al Arabiya.

Trump, pada Jumat (13/10), menolak terus melanjutkan kesepakatan nuklir Iran. Menurutnya, Iran telah melanggar kesepakatan dengan mengembangkan nuklirnya untuk kepentingan militer.

Sejak tercapainya kesepakatan nuklir Iran pada 2015, Kongres AS mewajibkan presiden mengesahkan kembali kesepakatan tersebut setiap 90 hari sebagai bukti Iran melaksanakan janjinya. Sejak menjabat sebagai presiden AS, Trump telah dua kali mengesahkan kesepakatan nuklir tersebut. Namun ia menolak melakukannya untuk ketiga kalinya.

Ia menyebut Teheran telah mensponsori gerakan terorisme. "Kami tidak akan menyusuri jalan yang telah diperkirakan kesimpulannya yakni lebih banyak kekerasan, lebih banyak teror dan ancaman nyata pelarian nuklir Iran," ujar Trump pekan lalu.

Dengan keputusan Trump tersebut, Kongres AS memiliki waktu 60 hari untuk memutuskan apakah akan membatalkan kesepakatan nuklir dengan menjatuhkan sanksi kepada Iran. "Jika kita tidak bisa mencapai solusi dengan Kongres dan sekutu kita, maka kesepakatan akan dihentikan. Ini sedang dalam peninjauan terus-menerus dan partisipasi kita (dalam kesepakatan nuklir) bisa dibatalkan oleh saya, sebagai presiden, kapan saja," ujar Trump.

Kesepakatan nuklir Iran adalah sebuah kesepakatan antara lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yakni AS, Inggris, Prancis, Rusia, Cina, ditambah Jerman dan Uni Eropa dengan Iran. Kesepakatan ini ditandatangani pada Oktober 2015 dan dilaksanakan pada awal 2016.

Kesepakatan tercapai melalui negosiasi panjang dan alot. Tujuan dari kesepakatan memastikan penggunaan nuklir Iran hanya terbatas pada kepentingan sipil dan bukan untuk keperluan militer. Imbalannya adalah sanksi dan embargo ekonomi terhadap Teheran akan dicabut.