Jumat , 20 October 2017, 08:35 WIB

Pemimpin ISIS Asal Malaysia di Marawi Kemungkinan Tewas

Red: Ani Nursalikah
Romeo Ranoco/Reuters
Pasukan pemerintah melintasi masjid di Marawi City, Filipina Selatan.
Pasukan pemerintah melintasi masjid di Marawi City, Filipina Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, MARAWI -- Tentara Filipina mengatakan pada Kamis (19/10) kemungkinan besar, petempur asal Malaysia yang diduga menjadi pemimpin kelompok ISIS di Asia Tenggara, tewas dalam pertempuran tadi malam.

Tiga belas pemberontak dari puluhan petempur setia pada ISIS, yang bersembunyi di jantung kota Marawi, tewas oleh militer dan warga Malaysia Mahmud Ahmad kemungkinan menjadi salah satu dari yang tewas.

"Kemungkinan besar, Mahmud termasuk di antara yang tewas, tapi kami baru dapat memastikannya setelah melakukan uji DNA, mungkin dengan pencocokan gigi," kata Wakil Komandan Gugus Tugas Tentara Kolonel Romeo Brawner kepada wartawan.

Jika terbukti, kematian Mahmud menjadi pukulan berarti bagi pemberontakan ISIS dalam usaha menunjukkan keberadaannya di Mindanao, kepulauan di Filipina selatan. Mahmud Ahmad, salah satu pria paling dicari di Malaysia, diyakini sangat berperan dalam pendanaan pengepungan Marawi yang berlangsung hampir lima bulan dan menewaskan lebih dari 1.000 orang, kebanyakan merupakan pemberontak.

Beberapa ahli mengatakan Mahmud diduga menjadi "emir" kelompok ISIS di Asia Tenggara setelah kematian Isnilon Hapilon pada Senin lalu. Hapilon adalah seorang pemimpin kelompok pemberontak dalam pengepungan di Marawi.

Hapilon tewas pada Senin bersama Omarkhayam Maute, salah satu dari dua pemimpin klan militan Maute, yang bekerja sama dengannya dalam melakukan pemberontakan untuk mendirikan sebuah kekhalifahan di Filipina selatan.

Kelompok pemberontak tersebut diperkuat oleh petempur dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Timur Tengah, disamping negara negara lainnya. Mahmud, seorang mantan dosen universitas berusia 39 tahun, diyakini telah berperan dalam pencarian dana untuk membiayai pemberontakan.

Pengepungan Marawi telah menjadi krisis keamanan terbesar di Filipina dalam beberapa tahun belakangan, namun beberapa ahli melihatnya sebagai aksi pendahuluan yang dilakukan oleh militan dalam memanfaatkan kemiskinan Mindanao dan menggunakan daerah hutan dan pegunungannya sebagai markas untuk melatih, merekrut dan melancarkan serangan di wilayah sekitar.

Tentara Filipina dalam pernyataannya mengatakan 13 pemberontak tewas dalam serangan semalam dan tujuh pada Senin pagi. Dua sandera diselamatkan dan keterangan mereka kepada pihak berwenang semakin meyakinkan bahwa Mahmud tewas.

Sumber : Antara