Selasa 24 Oct 2017 11:25 WIB

Butuh Seratus Tahun untuk Akhiri Pernikahan Dini di Afrika

Pernikahan dini (Ilustrasi).
Foto: IST
Pernikahan dini (Ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dana Anak PBB (UNICEF) pada Senin (23/10) menyatakan diperlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk mengakhiri perkawinan dini di Afrika Tengah dan Barat. Perkiraan baru yang disiarkan selama pertemuan tingkat tinggi mengenai diakhirinya perkawinan dini yang diselenggarakan di Ibu Kota dan Kota Tersebar Senegal, Dakar, pekan ini bertujuan menyoroti wilayah di dunia tempat anak perempuan menghadapi resiko paling tinggi untuk dinikahkan saat mereka masih anak-anak.

Meskipun prevalensi pernikahan dini di Afrika Tengah dan Barat telah turun selama dua dasawarsa belakangan, kemajuannya tak seimbang. Empat dari 10 anak perempuan masih dikawinkan sebelum mereka berusia 18 tahun. Termasuk diantara mereka, satu dari tiga anak perempuan dikawinkan sebelum ia berusia 15 tahun.

Afrika Tengah dan Barat meliputi enam dari 10 negara dengan prevalensi tertinggi perkawinan dini di dunia. Negara tersebut antara lain Niger, Republik Afrika Tengah, Chad, Mali, Burkina Faso dan Guinea. Pernikahan dini dipicu beberapa faktor termasuk kemiskinan, kondisi tidak aman dan tradisi. Mereka memiliki tradisi menikahkan anak perempuan saat mereka mencapai masa puber atau bahkan sebelumnya tertanam sangat dalam pada kebiasaan budaya di sebagian besar negara Afrika Tengah dan Barat.

Bank dunia melaporkan pernikahan dini menghambat upaya global untuk mengentaskan orang miskin dan mengurangi pertumbuhan penduduk dan memiliki dampak negatif pada kesehatan perempuan dan anak perempuan, prestasi pendidikan dan penghasilan.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement