Selasa , 14 November 2017, 06:45 WIB

Bocah Rohingya Seberangi Laut ke Bangladesh dengan Jeriken

Rep: umar mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
AP
Anak laki-laki Rohingya Nabi Hussain yang menyelamatkan diri dari tentara Myanmar dengan berenang dengan jeriken.
Anak laki-laki Rohingya Nabi Hussain yang menyelamatkan diri dari tentara Myanmar dengan berenang dengan jeriken.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGLADESH -- Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang tidak dapat berenang, menggunakan derijen minyak untuk menyeberangi laut sejauh dua setengah mil dari Myanmar ke Bangladesh. Usaha ini dilakukan Nabi Hussain di tengah meningkatnya kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Nabi Hussain mengikatkan wadah minyak goreng ke dadanya dan menggunakannya untuk mengapung ke pelabuhan Shah Porir Dwip. "Saya sangat takut mati," kata remaja itu, dikutip Independent, Senin (13/11), yang kemudian mengungkapkan kembali bahwa dia telah melewati banyak kematian selama perjalanan.
 
Nabi adalah anak keempat dai sembilan bersaudara. Dia tumbuh di pegunungan Myanmar, di mana ayahnya adalah petani yang menanam Paan, daun sirih yang digunakan sebagai tembakau kunyah. Dia tidak pernah pergi ke sekolah. Keluarganya terpaksa melarikan diri setelah militer Myanmar pindah ke desanya.
 
Di detik-detik terakhir meninggalkan Myanmar, Nabi melihat semua rumah di desanya terbakar. Ini terjadi sebagai tindakan brutal oleh pasukan keamanan di negara tersebut setelah beberapa anggota keamanan mereka diserang oleh gerilyawan Rohingya di provinsi Rakhine, Agustus lalu. Militer Myanmar telah dituduh membunuh laki-laki, memperkosa perempuan dan membakar rumah dan harta benda.
 
Ketika keluarga Nabi hendak mencapai pantai, mereka tidak memiliki uang untuk menaiki kapal atau membayar penyelundup untuk membawa mereka ke Bangladesh.
Saat itu mereka dikelilingi oleh pengungsi lain, dengan persediaan makanan dan air yang cepat menipis.
 
Pada hari kelima, orang tua Nabi merelakan anaknya untuk menyeberangi laut ke Bangladesh. Pada 3 November ia bergabung dengan 23 pemuda lainnya dalam perjalanan singkat yang berbahaya. Nabi tidak bisa berenang, sehingga dia ditempatkan di tengah pada kelompok penyeberang yang terdiri dari tiga orang.
 
Tubuh mereka diikatkan dengan tali dan ada derijen yang diikatkan ke tubuh mereka. Sekarang, Nabi adalah satu dari lebih 40.000 anak Muslim Rohingya yang sebatang kara di Bangladesh. "Saya ingin orang tua dan kedamaian saya," katanya.
 
Myanmar telah dikecam oleh masyarakat internasional atas perlakuannya terhadap komunitas Rohingya. Downing Street menyamakan tindakan kekerasan militer Myanmar dengan pembersihan etnis.
 
Dewan Keamanan PBB juga meminta Myanmar untuk mengendalikan kampanye militernya di negara bagian Rakhine dan mengizinkan ratusan ribu Muslim Rohingya yang diusir dari rumah mereka untuk kembali, pekan lalu.
 
Dewan tersebut menyatakan keprihatinan serius atas pelanggaran hak asasi manusia, termasuk oleh pasukan keamanan Myanmar terhadap orang Rohingya seperti pembunuhan, kekerasan seksual dan pembakaran rumah dan harta benda.