Selasa , 14 November 2017, 10:52 WIB

Korut Adukan Latihan Militer AS ke PBB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Andri Saubani
South Korea Defense Ministry via AP
Tiga kapal induk Amerika Serikat tiba di pantai timur Korea Selatan pada Ahad (12/11) untuk ikut dalam latihan militer bersama di semenanjung Korea.
Tiga kapal induk Amerika Serikat tiba di pantai timur Korea Selatan pada Ahad (12/11) untuk ikut dalam latihan militer bersama di semenanjung Korea.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA - Korea Utara (Korut) melapor kepada PBB pada Senin (13/11) mengenai latihan militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel). Pyongyang menyebut AS telah menyebabkan situasi terburuk di semenanjung Korea.

Dalam sebuah surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang dilihat oleh Reuters, Duta Besar Korut untuk PBB Ja Song-nam mengatakan AS telah memperkenalkan peralatan perang nuklir dalam latihan militer tersebut. Ja mengatakan, Washington harus dipersalahkan karena telah meningkatkan ketegangan.

Ia menuduh Dewan Keamanan (DK) PBB mengabaikan latihan perang nuklir AS yang akan membawa bencana besar terhadap umat manusia. Ja meminta Guterres untuk menarik perhatian 15 anggota DK PBB di bawah Pasal 99 Piagam PBB, yang jarang digunakan.

"Bahaya yang ditimbulkan oleh latihan perang nuklir AS, jelas-jelas merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional," ujar Ja.

Tiga kelompok armada kapal induk AS dilaporkan terlibat dalam latihan gabungan yang dilakukan di Pasifik Barat itu. Terakhir kali, ketiga kelompok armada kapal AS ini tercatat melakukan latihan militer gabungan di Pasifik Barat pada 2007.

Korsel mengatakan, latihan gabungan tersebut akan selesai pada Selasa (14/11), saat Presiden AS Donald Trump sedang melakukan kunjungan pertamanya ke Asia. Latihan ini merupakan tanggapan atas provokasi nuklir dan rudal oleh Korut.

Ketegangan semakin meningkat antara AS dan Korut menyusul serangkaian uji coba senjata oleh Pyongyang. Retorika keras juga terjadi antara Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un.

AS telah menegaskan semua opsi, termasuk opsi militer, siap dilakukan untuk melawan Korut, walaupun pilihannya tetap pada solusi diplomatik. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat telah menaikkan sanksi terhadap Korut atas program rudal balistik dan nuklirnya sejak 2006.