Selasa , 14 November 2017, 22:34 WIB

Gempa di Perbatasan Irak-Iran Mirip Gempa Nepal 2015

Rep: Kabul Astuti/ Red: Budi Raharjo
EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
 Regu penyelamat mencari korban di bawah reruntuhan sebuah bangunan yang hancur akibat gempa di kota Sarpol-e-Zahab di Provinsi Kermanshah, Iran, Senin (13/11).
Regu penyelamat mencari korban di bawah reruntuhan sebuah bangunan yang hancur akibat gempa di kota Sarpol-e-Zahab di Provinsi Kermanshah, Iran, Senin (13/11).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Gempa dahsyat berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang wilayah perbatasan Irak-Iran pada hari Senin (13/11) dini hari pukul 01.18 WIB. Gempa ini mengakibatkan ratusan korban jiwa, ribuan penduduk diungsikan, dan kerusakan bangunan.

Gempa dengan episenter di darat yang terletak pada koordinat 9.71 LU - 84.47 BB dengan kedalaman hiposenter dangkal 22 kilometer ini dipicu aktivitas tumbukan Lempeng Arab dengan Lempeng Eurasia di jalur lipatan dan sesar naik Zagros.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik (oblique thrust) ini akan semakin menambah tekanan. Ini juga mengangkat sebagian zona Pegunungan Zagros sehingga jalur pegunungan ini secara relatif akan bertambah tinggi. Wilayah ini juga akan tetap menjadi kawasan aktif gempa bumi.

"Karakteristik gempa kuat dengan kedalaman dangkal semacam ini tentu bersifat destruktif. Dilaporkan media bahwa gempa ini memang sangat merusak dan hingga pagi ini korban meninggal akibat gempa sudah melampaui jumlah 400 orang," kata Daryono dalam keterangan tertulis, Selasa (14/11).

Menurut Daryono, ini wajar karena medan tegangan yang terakumulasi di batas lempeng menjadi sangat besar. Sehingga saat stress batuan itu terlepaskan akan memancarkan energi sangat kuat yang dimanifestasikan sebagai gempa dahsyat.

Jika mengamati sebaran aktivitas gempa kuat di wilayah Timur Tengah sejak 1970, Daryono menjelaskan, tampak di zona ini memang jarang terjadi gempa signifikan. Kecuali aktivitas gempa-gempa kecil kurang dari magnitudo 5,0 yang jumlahnya cukup banyak. Tampaknya, wilayah ini memang sudah menjadi zona sepi gempa kuat sejak lama.

Di zona sepi gempa (seismic gap) inilah kemudian tiba-tiba muncul gempa kuat yang sangat merusak. Daryono mengatakan fenomena ini sangat menarik perhatian bagi para ahli gempabumi untuk dilakukan kajian lebih lanjut.

Daryono menjelaskan proses pensesaran atau patahan yang terjadi di Zona Pegunungan Zagros merupakan produk tumbukan kontinen (continent collision), sehingga wajar jika energi stress yang dilepaskan sangat besar. Saking kuatnya, guncangan gempa ini dilaporkan dapat dirasakan hinga jauh di wilayah Kuwait dan Saudi Arabia.

"Ditinjau dari sumber gempanya, ada kemiripan pola sumber gempa di perbatasan Iran-Iraq ini dengan gempa Nepal 2015 yang berkekuatan 7,8 skala richter. Keduanya sama-sama gempa dahsyat produk tumbukan lempeng di daratan," kata Daryono.

Di wilayah Indonesia, lanjut Daryono, zona sumber gempa jalur sesar naik (thrust and belt) seperti itu dapat ditemukan di Papua, yaitu Mamberamo Thrust and Belt dan Jayawijaya Main Thrust and Belt. Tektonik Papua dipengaruhi oleh pergerakan Lempeng Pasifik ke arah barat dan Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara.

Tumbukan tersebut membentuk tatanan struktur kompleks, sehingga tak heran jika di Papua memiliki potensi gempa darat berkekuatan besar. Catatan sejarah gempa membuktikan di Papua beberapa kali terjadi gempa dahsyat pada tahun 1900 (7.8 skala richter), 1914 (7,9), 1916 (8,1), 1926 (7,9), dan 1971 (8,1).

Menyusul gempa ini, BMKG mengingatkan kembali bahwa seluruh zona sesar aktif di wilayah Indonesia merupakan ancaman nyata bagi masyarakat yang bermukim di wilayah dekat jalur sesar. Seluruh jalur sesar aktif di wilayah Indonesia patut untuk selalu diwaspadai.

"Utamanya jalur sesar yang berdekatan dengan wilayah permukiman padat, dekat wilayah perkotaan, maka sosialisasi mitigasi gempabumi dan kampanye pentingnya membangun bangunan tahan gempa harus terus digalakkan," ujar Daryono.