Rabu , 15 November 2017, 07:23 WIB

Muslim dan Yahudi Korban Kebencian Terparah di AS

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Elba Damhuri
.
KRISTIANE BACKER menjadi model untuk kampanye anti-Islamophobia (bbc)
KRISTIANE BACKER menjadi model untuk kampanye anti-Islamophobia (bbc)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) telah menerbitkan laporan tentang persentase kejahatan kebencian akibat sentimen suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) yang terjadi di AS sepanjang 2016. Dalam laporan tersebut, Muslim dan Yahudi menjadi kelompok yang paling sering menjadi korban kejahatan kebencian.

Laporan yang diterbitkan FBI menghimpun informasi yang diajukan aparat penegak hukum dari seluruh AS. Dalam laporannya, tercatat terdapat 6.221 kasus kejahatan kebencian akibat bias atau sentimen SARA. Jumlah ini naik 4,6 persen bila dibandingkan pada 2015 yang hanya mencatat sekitar 5.850 kasus.

Analisis terhadap 6.063 insiden bias tunggal yang melibatkan 7.509 korban mengungkapkan, 21 persen dari kasus tersebut didorong oleh bias agama. Ini menjadi motivasi tertinggi kedua setelah bias ras dan etnisitas.

Adapun pemeluk agama yang paling sering atau kerap menjadi korban kejahatan kebencian akibat bias agama adalah Muslim dan Yahudi. Bias anti-Muslim membentuk bias agama tertinggi kedua dengan persentase 25 persen. Sedangkan, bias anti-Yahudi merupakan yang paling tertinggi, yakni dengan persentase 55 persen.

Laporan FBI ini seperti mengonfirmasi keluhan dan keresahan yang selama ini disuarakan warga AS, khususnya kalangan Muslim. Mereka mengklaim telah terjadi peningkatan cukup signifikan terkait kejahatan atau pelecehan yang disebabkan Islamofobia.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), yang merupakan kelompok hak asasi manusia dan advokasi Muslim terbesar di AS, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa laporan yang dirilis FBI menunjukkan perlunya semua masyarakat AS bangkit menghadapi kefanatikan nasional.

“Kita semua telah menyaksikan kemarahan dan prasangka yang menandai musim pemilihan presiden tahun lalu, dan itu berkembang secara nasional di lingkungan politik saat ini,” ujar Direktur Departemen Nasional CAIR untuk Pemantauan dan Perlawanan Islamofobia Corey Saylor, dikutip laman Anadolu Agency.

“Untuk membalikkan kecenderungan yang mengganggu ini terkait peningkatan kebencian dan pembelahan masyarakat, kita harus berdiri untuk menghadapi kefanatikan yang menargetkan kelompok minoritas,” kata Saylor menambahkan.

The Southern Poverty Law Center mengatakan pada awal tahun ini bahwa mereka menemukan lonjakan drastis dalam kejahatan kebencian, pelecehan, dan intimidasi di seluruh AS. Hal ini, menurut mereka, terjadi setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden pada November 2016.

"Kini, kita menghadapi kenaikan ambang (kejahatan karena kebencian) yang tak terpecahkan dalam pemilihan presiden seperti pada 1992," ujar Brian Levin, profesor di Center for the Study of Hate and Extremism di California State University, San Bernardino.

Namun, kata Levin kepada Huffington Post, yang membedakan 2016 dari tahun sebelumnya adalah kenaikan tajam angka kejahatan akibat kebencian justru seputar hari pemungutan suara. Los Angeles, misalnya, ada kenaikan 29 persen kejahatan akibat kebencian dalam tiga bulan terakhir 2016.

Sedangkan, New York City menunjukkan kenaikan kejahatan akibat kebencian sebanyak lima kali lipat selama dua pekan pada periode pemungutan suara dalam pemilihan presiden.

(Tulisan diolah oleh Yeyen Rostiyani)