Senin , 20 November 2017, 20:45 WIB

Rakyat Timor Leste Dihantui Limbah Berbahaya

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Karta Raharja Ucu
Antara/Yudhi Mahatma
Sungai yang tercemar akibat pembuangan limbah dari pabrik (ilustrasi).
Sungai yang tercemar akibat pembuangan limbah dari pabrik (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, DILI -- Hampir dua puluh tahun setelah Timor Leste lepas dari Indonesia, tidak banyak yang berubah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tibu di dekat ibu kota, Dili. Di sana masih terdapat asap pembakaran, kecelakaan ledak, anak-anak kurang gizi hingga tidak adanya pelayanan sosial.

Di TPA Tibu terdapat kondisi di mana pemulung sampah berumur delapan tahun mencari nafkah dalam kondisi yang tak terbayangkan. TPA tersebut merupakan tempat pembuangan sebagian besar sampah di Dili, termasuk asbes mematikan dan limbah rumah sakit. Tempat seluas tujuh hektar yang terletak di perut lembah yang curam itu merupakan bencana kesehatan lingkungan dan masyarakat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sekitar 100 ton limbah berbahaya diproduksi setiap tahun di Dili dari kegiatan kesehatan saja. Karena tidak ada fasilitas pengolahan atau pembuangan terpusat yang tersedia untuk limbah tersebut, limbah ini sering dibuang ke pembuangan limbah di Tibar.

Hal pertama yang menyerang pengunjung TPA Tibar adalah asap hitam tajam yang dilepaskan api buatan pemulung untuk mencairkan barang-barang plastik seperti mesin cuci dan kursi yang kemudian dapat dijual sebagai logam bekas. "Asapnya benar-benar mengejutkan saya. Tumpukan sampah yang membara selama 24 jam," kata Chris Kaley, seorang turis asal Australia yang mengunjungi TPA bersama Bruce Logan, pemilik hotel Australia di Beachside Hotel Dili, dilansir dari Aljazirah, Senin (20/11).

Dalam TPA tersebut terdapat anak-anak, termasuk seorang gadis berusia delapan tahun bernama Vanya yang tinggal di luar tempat pembuangan sampah. Dia bilang dia telah bekerja di sini sepanjang hidupnya.

"Saya suka di sini karena saya bisa bersama orang tua dan teman saya," katanya.

Di tepi lokasi TPA, Magdalena, seorang wanita berusia 70 tahun telah bekerja di tempat pembuangan sampah sejak 2006. Ia tidur di bawah tenda terbuat dengan atap lembaran besi bergelombang dengan empat besi pendek sebagai tiang.

Keberadaannya bertentangan dengan informasi yang disampaikan oleh seorang karyawan departemen sanitasi yang bekerja di tempat itu, yang mengatakan tidak diperbolehkan ada orang tinggal di dalam tempat pembuangan akhir.

TAG

Berita Terkait