Kamis 14 Dec 2017 14:06 WIB

MSF: 9.000 Orang Rohingya Tewas dalam Satu Bulan

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah
Pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Balikhali yang disiapkan khusus untuk janda dan anak yatim, Cox's Bazaar, Bangladesh.
Foto: Damir Sagolj/Reuters
Pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Balikhali yang disiapkan khusus untuk janda dan anak yatim, Cox's Bazaar, Bangladesh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei terbaru yang dilakukan oleh Doctors Without Borders atau Mdecins Sans Frontires (MSF) menyebut sedikitnya 9.000 orang tewas di Rakhine, Myanmar dalam kurun waktu satu bulan. Sebanyak 71,7 persen diantaranya meninggal karena kekerasan.

Dalam hasil survei yang diterima Republika.co.id, Kamis (14/12), MSF melakukan survei ini di kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. Angka kematian ini terhitung mulai 25 Agustus hingga 24 September lalu.
 
"Sedikitnya 6.700 orang Rohingya meninggal karena dibunuh, 730 diantaranya anak-anak dibawah lima tahun," kata MSF. Lembaga medis internasional yang sudah berada di Bangladesh sejak 1985 ini mengatakan Rohingya telah menjadi target.
 
Operasi militer yang dilaksanakan berkedok pemberantasan teroris itu telah menjadi alat pembersihan etnis. Sejak 25 Agustus, diperkirakan lebih dari 647 ribu orang melarikan diri dari Myanmar.
 
"Kami bertemu langsung dan bicara dengan para korban selamat kekerasan di Myanmar," kata Direktur Medis MSF, Dr Sidney Wong. Saat ini, para pengungsi berlindung di kamp tak layak di Bangladesh.
 
Banyak korban melaporkan keluarganya yang tewas di depan mata mereka karena dibunuh. Mereka dibinasakan dengan cara mengerikan. "Puncak jumlah kematian ini bertepatan dengan operasi pembersihan pasukan keamanan Myanmar pada akhir Agustus lalu," tambah Wong.
 
Pada awal November, MSF melakukan survei di wilayah berbeda di Cox's Bazar. Total cakupan survei populasi pengungsi di sana yang mencapai 608.108 orang. Sebanyak 503.698 orang diantaranya masuk ke Bangladesh setelah 25 Agustus.
 
Dari data survei, diperkirakan korban tewas karena penembakan adalah sebanyak 69 persen, karena pembakaran rumah sebesar sembilan persen dan dipukuli hingga tewas sebesar lima persen. Lebih dari 59 persen korban balita tewas karena ditembak. Sebanyak 15 persen karena pembakaran rumah, tujuh persen karena dipukul dan dua persen karena ledakan ranjau.
 
Wong memperkirakan jumlah sebenarnya masih jauh lebih besar. Ini karena tidak semua pengungsi di Bangladesh ikut dalam survei. "Kami mendengar laporan ada keluarga yang tidak selamat sama sekali, mereka dikunci di rumah dan dibakar hidup-hidup," katanya.
 
Saat ini, Wong mengatakan masih banyak orang yang mengungsi ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir. Hanya sedikit kelompok bantuan yang bisa masuk distrik Maungdaw, Rakhine. Menurutnya, banyak orang Rohingya yang masih berada di sana.
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement