Sabtu , 13 Januari 2018, 19:38 WIB

Turki Sediakan Layanan Kesehatan untuk Pengungsi Rohingya

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Bilal Ramadhan
AP/Dar Yasin
Dalam foto file bulan September 2017, seorang anak Muslim etnis Rohingya menangis ketika berebut pembagian makanan di kamp pengungsian Cox Bazar, Bangladesh.
Dalam foto file bulan September 2017, seorang anak Muslim etnis Rohingya menangis ketika berebut pembagian makanan di kamp pengungsian Cox Bazar, Bangladesh.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Sebuah lembaga bantuan yang berbasis di Istanbul, Turki, menyediakan perawatan medis bagi pengungsi Rohingya yang tanpa kewarganegaraan, yang tinggal di kamp pengungsian di Bangladesh. Aliansi Dokter Internasional (AID) telah mendirikan dua ruang rawat jalan, sebuah teater operasi dan ruang darurat, tempat bersalin dan apotek.

Kepala AID Dr. Mevlit Yurtseven mengatakan, bahwa pertama-tama mereka memberikan skrining medis kepada para pengungsi dan kemudian memberikan obat yang diperlukan. Ia juga mengatakan, bahwa para dokter membayar kunjungan kepada para pengungsi dan mengedukasi mereka tentang kesehatan dan sanitasi.

"Ratusan orang dirawat setiap hari di pusat kesehatan kami. Melalui amal dari orang-orang, ribuan klinik rawat jalan telah didirikan dan obat-obatan disediakan," kata Yurtseven, dilansir dari Anadolu Agency, Sabtu (13/1).

Dia mengatakan, para pengungsi membutuhkan dukungan lebih lanjut terkait makanan, obat-obatan, peralatan medis, produk sanitasi, formula bayi, pakaian dan terpal. Koordinator Proyek Merve Ay mengatakan, fasilitas di kamp tidak mencukupi dan lebih banyak yang harus dilakukan bagi para wanita hamil.

Dr. Kubra Nur Kaya, seorang sukarelawan proyek tersebut, menghabiskan cuti tahunannya di kamp di Bangladesh. Ia mengungkapkan kebahagiannya sebagai bagian dari proyek tersebut.

Proyek ini tengah dilaksanakan bersama Asosiasi Diabetik Turki dan Allama Fazlullah Foundation. Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Sejak 25 Agustus 2017 lalu, sekitar 650 ribu pengungsi, kebanyakan anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar. Mereka pergi setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas minoritas Muslim tersebut.

Menurut Doctors Without Borders, sedikitnya 9.000 warga Rohingya tewas di negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 12 Desember, organisasi kemanusiaan global mengatakan bahwa kematian rai 71,7 persen atau 6.700 Rohingya disebabkan oleh kekerasan.

Mereka termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun. PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan (termasuk bayi dan anak kecil), pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh petugas keamanan.

Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.