Kamis 05 May 2016 14:12 WIB

Program "Dari Ibu Indonesia Untuk Palestina" Diluncurkan

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina
Foto: Mer-C
Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah program kemanusiaan bertajuk "Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina di Jalur Gaza" telah diluncurkan. Program itu untuk membantu kebutuhan ibu dan anak yang menjadi korban akibat blokade Israel di Palestina.

"Akibat diterpa krisis dan lebih dari 10 tahun Gaza masih diblokade oleh Israel, imbasnya ke para ibu-ibu di Gaza. Mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan baik gizi maupun perlengkapan bayi dan ibu melahirkan," kata relawan Indonesia yang menetap di Jalur Gaza, Palestina Abdillah Onim, Kamis (5/5).

Ia menjelaskan dengan kondisi tersebut maka pihaknya berinisiatif untuk mengadakan program bernama "Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina di Jalur Gaza" itu. Bentuknya, kata dia, yaitu program bantuan perlengkapan bayi dan kebutuhan ibu melahirkan di Rumah Sakit Shifa, Gaza City, Palestina yang merupakan sumbangan dari kaum ibu-ibu di Indonesia.

"Bantuan yang kami adakan ini atas rekomendasi dari pihak Rumah Sakit Shifa Gaza City," kata Abdillah Onim, yang sebelumnya adalah relawan organisasi kegawatdaruratan kesehatan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dan menikah dengan muslimah Palestina.

Menurut dia, kian ketatnya blokade dan isolasi penjajahan zionis Israel atas wilayah Jalur Gaza ini juga semakin mempersulit tatanan hidup dan perekonomian masyarakat di kawasan itu.  Dikemukakannya bahwa saat ini sebanyak 1,9 juta jiwa masyarakat Gaza harus menerima nasib.

"Jika 70 persen hidup di bawah garis kemiskinan berarti tidak kurang dari satu juta jiwa dari warga Gaza tidak mendapatkan lapangan pekerjaan," kata Onim, yang kini juga mengoperasikan Kantor Berita Suara Palestina (SP News Agency).

Sedangkan lebih dari 220.000 pemuda Gaza merupakan pengangguran. Tercatat 180.000 orang pemuda dan pemudi lulusan sarjana tidak mendapatkan lapangan pekerjaan. Kondisi lainnya, 120.000 urang berusia 50 tahun lebih terpaksa dirumahkan karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement