Sabtu 25 Mar 2017 15:56 WIB

Tiga Bulan Menjadi Khadim Syekh Ahmad Yasin, Seperti Ini Kisah Nidal Abu Saadah

 Sheikh Ahmed Yassin, pemimpin spiritual kelompok Hamas Palestina (Ilustrasi)
Foto: islamtimes.org
Sheikh Ahmed Yassin, pemimpin spiritual kelompok Hamas Palestina (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NABULUS -- Nidal Abu Saadah, lelaki dari Beit Dajan, Nablus ini adalah satu di antara tahanan yang pernah menjadi khadim dari sang pendiri Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Syekh Ahmad Yasin, selama tiga bulan di penjara Kafr Yona tahun 1994.

Seperti dilansir Pusat Informasi Palestina (Palinfo), Nidal menuturkan, pengalaman berharganya tersebut. Dia mengatakan, bahwa mesikpun lumpuh, namun Syekh Yasin adalah orang yang sangat menghargai waktu.

"Beliau terbiasa memulai harinya sejak pukul 02:00 malam dengan shlat Tahajjud dan membaca Alquran hingga waktu Subuh. Di siang hari beliau membagikan waktunya dengan belajar serta mengikuti perkembangan yang terjadi di Palestina," ungkap Nidal.

Syekh Yasin juga menguasai berbagai cabang ilmu, seperti dari fiqih, politik hingga strategi perang. Selain itu, beliau adalah sekolah bagi yang ingin memiliki pribadi penyabar dan teguh pendirian.

Saat itu, kata dia, Syekh Yasin divonis penjara seumur hidup. Namun, beliau tetap mengatakan dengan yakin bahwa, 'Hanya Allah yang menentukan tanggal pembebasan saya.'

Nidal menambahkan, bahwa Syekh Ahmad Yasin adalah penderita lumpuh total, berat tubuhnya tak lebih dari 55 kilogram. Namun, beliau sangat disegani oleh siapapun baik teman maupun musuh.

Selain itu, menurutnya, Syekh Yasin memiliki firasat yang sensitif atau dengan kata lain karomah. Nidal menceritakan, kejadian aneh saat ia bersama Syekh Yasin.

Suatu hari Syekh Yasin, yang saat itu sedang beristirahat di waktu Qailulah, tiba-tiba terbangun lalu memintaku untuk menyalakan televisi, seolah ada hal besar yang baru saja terjadi. Benar saja, karena seluruh stasiun TV saat itu memberitakan operasi Diankov di Tel Aviv oleh prajurit al-Qassam bernama Salih Suwai yang berasal dari Qalqiliya. Prajurit tersebut berhasil membunuh 13 prajurit zionis serta melukai 10 lainnya.

"Saya hanya menemani Syekh selama tiga bulan, namun  merasa bangga dan senang pernah bersama beliau . Saya tidak mengira bisa mendapatkan pengalaman berharga tersebut dan semoga saya bisa menjadi khadim beliau di surga kelak," tuturnya.

sumber : suarapalestina.id/SPNA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement