Selasa , 22 August 2017, 10:28 WIB

Palestina Peringati Insiden 48 Tahun Pembakaran Al Aqsha

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
AP
Kompleks Masjid Al Aqsha.
Kompleks Masjid Al Aqsha.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Rakyat Palestina, pada Senin (21/8), memperingati tragedi diserangnya Masjid Al Aqsha yang terjadi 48 tahun lalu, tepatnya 21 Agustus 1969. Kala itu, Denis Michael Rohan, seorang Kristen ekstremis asal Australia, membakar Masjid Al Aqsha yang menyulut kemarahan negara-negara Islam.

Dalam peringatan ini, dua kubu gerakan Palestina, yakni Fatah dan Hamas, memberikan pernyataan. Keduanya sama-sama mengulangi kecaman terhadap sejarah antagonisme Israel yang panjang terhadap eksistensi Masjid Al Aqsha.

Dalam pernyataan terpisah, Fatah dan Hamas meminta masyarakat Arab dan Muslim di seluruh dunia, bersama dengan komunitas internasional, untuk memikul tanggung jawab bersama. Hal itu berkaitan dengan Yerusalem Timur yang diokupasi dan diduduki Israel, termasuk situs tersuci ketiga umat Islam, Masjid Al Aqsha.

“Sebagai kekuatan pendudukan, Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem Timur, termasuk Masjid Al Aqsha dan sekitarnya,” kata Fatah yang berbasis di Tepi Barat dalam pernyataannya, seperti dilaporkan laman Middle East Monitor.

 “Yerusalem, termasuk Al Aqsha, adalah bagian integral dari tanah Palestina yang diduduki (oleh Israel) pada tahun 1967,” ujar Fatah menambahkan.

Hamas pun melayangkan kecamannya terhadap Israel. Menurut mereka, pendudukan oleh Zionis Israel telah menghancurkan Al Aqsha sebagai rumah ibadah yang sangat disucikan umat Islam. Hamas juga memuji keteguhan hati perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. “Kejahatan musuh Zionis dan pelanggaran terus menerus terhadap rakyat kita, tanah, dan tempat-tempat suci hanya akan memperkuat tekad dan penolakan kita untuk mengenali entitas Zionis,” ujar Hamas dalam pernyataannya.

Pembakaran Masjid Al Aqsha oleh Denis Michael Rohan pada 21 Agustus 1969 menyebabkan hancurnya beberapa bagian masjid. Termasuk sebuah mimbar kayu dan gading berusia 1.000 tahun yang berasal dari masa penaklukan oleh Saladin yang memimpin Perang Salib. Api juga melahap mihrab Khalifah Umar bin Khattab beserta sebagian besar kubah kayu yang dihias ornamen.

Dua hari setelah serangan tersebut, Rohan ditangkap oleh otoritas berwenang Israel. Menurut Israel, Rohan menderita penyakit jiwa yang parah dan akhirnya dideportasi ke tempat asalnya, yaitu Australia.

Negara-negara Islam merespons kejadian pembakaran Al Aqsha dengan membentuk Organisasi Konferensi Islam multilateral, yang kemudian dinamakan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pada 15 September 1969, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 271 yang mengutuk serangan destruktif terhadap Masjid Al Aqsha. Resolusi juga mengecam pemerintah Israel karena dinilai tidak menghormati keputusan PBB.