Senin , 11 September 2017, 19:00 WIB

Israel Pertimbangkan Perluasan Permukiman di Yerusalem Timur

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
AP Photo
Permukiman Yahudi Pisgat Zeev di Yerusalem timur terlihat di belakang bagian dari tembok pemisah Israel
Permukiman Yahudi Pisgat Zeev di Yerusalem timur terlihat di belakang bagian dari tembok pemisah Israel

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM - Komite Perencanaan dan Pembangunan Dewan Kota Yerusalem akan membahas pemberian izin bangunan pada Ahad (10/9). Menurut Jabel Mukaber dari Peace Now, izin ini akan digunakan untuk perluasan permukiman Israel di Yerusalem Timur.

Izin tersebut akan memungkinkan perluasan di permukiman Nof Zion dengan menambahkan 176 unit rumah dari 91 unit yang telah ada. Rencana unit baru telah disetujui dan penerbitan izin mendirikan bangunan merupakan langkah birokrasi terakhir.

Peace Now mengatakan, rencana tersebut akan menjadikan Nof Zion sebagai pemukiman Israel terbesar di dalam lingkungan Palestina. Sebagian besar pemukiman, terutama di Tepi Barat yang diduduki, terletak di luar wilayah pemukiman Palestina.

"Di Yerusalem Timur, ini adalah perkembangan yang sangat serius. Ini menunjukkan kecenderungan ekspansi permukiman di lingkungan Palestina di Yerusalem timur," ujar juru bicara Peace Now Anat Ben Nun, dikutip Arab News.

Israel menduduki Yerusalem Timur saat Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian mencaploknya, namun tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional. Israel menginginkan, Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, yang juga diinginkan oleh Palestina.

Pemerintah Israel telah mengumumkan beberapa perluasan permukiman sejak Presiden AS Donald Trump mulai menjabat. Trump juga telah menjadi jauh kurang kritis terhadap perluasan pemukiman Israel, dibandingkan pendahulunya Barack Obama.

Permukiman Israel dipandang ilegal di bawah hukum internasional dan memblokir jalan menuju perdamaian karena dibangun di atas tanah Palestina. Status Yerusalem sangat sensitif dan penting bagi konflik Israel-Palestina.

Pertemuan komite pada Ahad (10/9) dilakukan saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berangkat ke Amerika Latin. Dia dijadwalkan mengunjungi Argentina, Kolombia, dan Meksiko sebelum melanjutkan ke New York.