Jumat , 22 September 2017, 03:29 WIB

Kasus Bunuh Diri di Gaza Meningkat

Rep: Marniati/ Red: Nidia Zuraya
Akibat blokade, warga Jalur Gaza harus menghadapi penderitaan berkepanjangan.
Akibat blokade, warga Jalur Gaza harus menghadapi penderitaan berkepanjangan.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Mohanned Younis (22) seorang penulis muda dan lulusan farmasi melakukan bunuh diri pada akhir bulan lalu dengan menghirup gas beracun. Setelah mencoba meninggalkan Jalur Gaza berkali-kali untuk memajukan karir menulisnya, dia akhirnya depresi, dan merasa tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Akhirnya Younis memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kasus yang dialami Younis bukanlah hal baru di jalur Gaza. Dilaporkan kasus bunuh di di Gaza semakin meningkat. Walaupun tidak ada statistik resmi mengenai masalah ini, namun pejabat kesehatan di Jalur Gaza mengatakan bahwa mereka mengetahui 200 sampai 300 kasus bunuh diri yang terjadi dalam dua tahun terakhir.

Data lain menganggap dari LSM We Are Not Bumbers (WANN) mencatat 80 kasus bunuh diri per bulan pada bulan Januari dan Februari 2016. Angka ini meningkat sebesar 160 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di beberapa lingkungan, kasus bunuh diri telah menjadi kejadian mingguan.

Anas Jnena, seorang penulis di WANN, mengatakan insiden semacam ini tidak pernah terdengar beberapa tahun yang lalu.

"Ketika saya masih remaja, saya tidak pernah mendengar tentang sesuatu seperti bunuh diri, saya bahkan tidak pernah tahu apa arti bunuh diri, mungkin hanya di buku. Tapi itu sangat jauh dari sesuatu untuk dipahami, sampai menjadi lebih teratur dan umum di Gaza," katanya seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (21/9).

Lebih dari separuh dari mereka yang tinggal di bawah pengepungan di Jalur Gaza berusia di bawah 18 tahun. Kenaikan depresi terutama terjadi di kalangan pemuda yang setelah mencapai tingkat pendidikan tinggi mendapati bahwa keterampilan mereka tidak berguna dan mereka tidak dapat pergi dari wilayah tersebut. Jalur ini memiliki tingkat pengangguran kaum muda tertinggi di dunia,

Banyak dari mereka yang mencoba bunuh diri memiliki pendidikan tinggi; Menurut Direktur jenderal Pusat Promosi Kesehatan dan Peningkatan Mental di Gaza, Ahmed Abu Tawahina mengatakan kebanyakan pemuda tersebut lulusan universitas namun tidak memiliki harapan untuk mencari pekerjaan.

"Kehidupan di Gaza benar-benar sulit, jadi mereka mencoba untuk berhenti melakukannya," katanya.

Menurut para pemuda tersebut, alasan utama mereka merasa depresi karena ketidakmampuan melakukan perjalanan ke luar Gaza, diikuti oleh pemadaman listrik yang terus-menerus, kurangnya prospek kerja dan ancaman serangan Israel.

Kesedihan yang dirasakan warga muda Gaza semakin bertambah saat mereka membandingkan kehidupannya dengan dunia luar melalui media sosial.

Adapun wanita yang mencoba bunuh diri penelitian menunjukan bahwa perempuan tersebut sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau mengalami depresi karena masalah keluarga.

Demikian pula, tekanan bagi pria untuk menyediakan kebutuhan finansial bagi keluarga mereka. Hal ini sering menyebabkan kesengsaraan bagi banyak orang karena mereka dianggap tidak berguna oleh keluarga dan masyarakat.

Menurut WANN, penyebab utama meningkatnya kasus bunuh diri di Gaza tidak lain dikarenakan blokade oleh Israel sejak 2007, Gaza adalah wilayah terpadat keenam di dunia. Sedikitnya sumber daya dan ketidakmampuan untuk melarikan diri telah menyulitkan kehidupan di sana dan membuat warga merasa terperangkap

Saat ini, Gaza juga menghadapi krisis energi, air dan kesehatan. Warga hanya menerima maksimal dua sampai empat jam listrik setiap hari, membuat air bersih dan sistem pembuangan limbah tidak bisa dioperasi. Diperkirakan 40 persen obat yang diperlukan juga tidak tersedia atau akan habis dalam waktu satu bulan, sementara pasien yang membutuhkan perawatan darurat dicegah meninggalkan wilayah tersebut.

Awal bulan ini, Komite Populer melawan Pengepungan di Gaza menemukan bahwa delapan dari sepuluh warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan tidak adanya tanda blokade yang berakhir, ekonomi tidak mampu menanggung biaya dan tingkat pengangguran telah melampaui 42 persen.