Sabtu , 30 September 2017, 10:02 WIB

Anak-Anak Gaza yang tak Cuma Terluka...

Red: Elba Damhuri
muhamad subarkah
Anak-anak Palestina
Anak-anak Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Kamran Dikarma

Juli 2014 lalu, tepat pada malam pertama Idul Fitri, Amir Ibrahim al-Raqeb, seorang bocah berusia sembilan tahun yang tinggal di Khan Younis, bagian selatan Jalur Gaza, terpaksa harus mengalami kejadian mencekam. Malam yang seharusnya penuh sukacita itu seketika berubah menjadi tragedi memilukan, setelah sebuah serangan udara Israel menghantam permukiman rumahnya.

Paman dan dua tetangga Amir tewas akibat serangan tersebut. Amir sendiri sempat dikira tewas karena tubuhnya tak ditemukan setelah serangan terjadi. Namun, tak lama kemudian warga menemukan Amir tergolek tak sadarkan diri sekitar 100 meter dari tempat jatuhnya serangan. Tubuhnya diselimuti debu dan pasir.

"Amir menderita luka pada tengkoraknya dan patah tulang di rahang," kata ibunda Amir, Ibtisam, kala mengingat kejadian itu, seperti dilaporkan laman Aljazirah, pekan ini.

Sejak serangan tersebut, Amir telah menjadi pengunjung tetap rumah sakit. Ia menjalani serangkaian operasi di Israel dan Tepi Barat serta menghabiskan enam bulan di ICU. Hal ini mengakibatkan Amir harus mencampakkan sekolahnya.

Kala itu, Ibtisam juga terpaksa harus menitipkan bayinya yang baru lahir tepat ketika serangan Israel terjadi, yakni 27 Juli 2014. Ia menitipkan bayinya agar dapat mendampingi Amir menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Israel.

Kendati telah menjalani operasi dan perawatan, Amir harus merelakan mata kirinya kehilangan kemampuan untuk melihat. Koroid atau selaput hitam pada mata kirinya memudar dan berwarna bening akibat terkena pecahan proyektil. "Dia (Amir) kehilangan salah satu matanya," kata Ibtisam dengan suara lirih.

Meskipun kini Amir telah pulih dari luka-lukanya, dampak psikologis akibat serangan pada Juli 2014 lalu itu masih menghantuinya. Setiap kali Amir mendengar suara jet tempur Israel melintas atau suara guntur dan ledakan keras lainnya, Amir akan bergegas berlari memdekap orang tuanya.

Tak hanya itu, Amir pun kerap mengalami mimpi buruk dan tak bisa terlelap bila tak tidur di sisi orang tuanya. "Dia mengambil bantalnya dan mengikuti saya, kemudian meletakkan bantalnya di pangkuan saya, kemudian tidur. Bila dia terbangun dan tak menemukan saya atau ayahnya di sebelahnya, dia akan menangis, mencari kita," kata Ibtisam.

Pengalaman Amir pun dirasakan Muntaser Bakr, anak berusia 11 tahun yang juga tinggal di Gaza. Ketika perang 50 hari berkecamuk di Gaza pada Juli hingga Agustus 2014, Muntaser dan teman-temannya menjadi korban serangan rudal Israel.

Saat itu, Muntaser bersama tujuh kerabat dan teman-temannya sedang bermain sepak bola di dekat pantai. Tiba-tiba rudal Israel mendarat tak jauh dari tempat mereka bermain. Muntaser dan tiga saudaranya berhasil selamat dan sisanya tewas akibat serangan itu.

Kendati selamat, Muntaser mengalami koma selama tiga hari. Ketika tersadar dari komanya, ia menjerit-jerit dan berteriak, "Mereka semua mati! Aku membunuh mereka, aku membunuh mereka."

Namun, ibunya, Sharifa, yang terus mendampinginya selama masa koma menenangkannya dan berkata, "Kamu tidak membunuh siapa pun."

Sejak saat itu, Muntaser menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD). Ia kerap berhalusinasi dan menggumamkan kata-kata yang tak dapat dimengerti. Bahkan terkadang kondisi Muntaser tak dapat terkontrol.

"Dia mulai menjerit dan kemudian mengalami kejang, kehilangan kesadaran, dan mulai mengepalkan rahangnya. Dia tidak akan tenang sampai kita membawanya ke rumah sakit untuk disuntik," kata Sharifa.

Sharifa mengungkapkan, sebelum perang berkecamuk di Gaza pada 2014, Muntaser sangat suka pergi ke pantai. Namun, setelah serangan rudal mematikan, anaknya tak lagi pergi ke sana.

"Pertama kali dia (Muntaser) kembali ke pantai setelah tragedi tersebut, dia menghabiskan waktu lama untuk melihat laut, lalu dia mulai menangis. Dia tidak kembali lagi (ke pantai)," ujarnya.

Malak Abu Jamous, anak perempuan berusia sembilan tahun yang tinggal di Khan Younis, Gaza, kehilangan kakek tercintanya yang tewas akibat sebuah serangan Israel pada 2014. Malak sangat akrab dan lekat dengan kakeknya.

Kini setelah kakeknya tiada, Malak kerap berbicara sendiri dengan foto kakeknya tersebut. "Pertanyaan yang paling sering dia tanyakan adalah, akankah kakekku kembali? Kapan dia kembali?" kata ibunda Malak, Ahlam.

Ahlam selalu menjawab, "Dia tidak kembali, dia telah pergi ke surga." Namun, jawaban itu tak pernah memuaskan batinnya.

Ia selalu mengajukan pertanyaan serupa kepada ayahnya dengan harapan akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Namun, ayahnya akan kembali bertanya padanya, "Apakah orang yang mati akan kembali?\" Malak pun menjawab dengan yakin, "Ya, kakekku akan kembali."

Serangan Israel ke Gaza pada Juli hingga Agustus 2014 telah meyebabkan 2.200 warga Palestina tewas. Dalam serangan 50 hari tersebut, tentara Israel sedikitnya membunuh 500 anak-anak Palestina. Serangan Israel itu memicu demonstrasi internasional yang mendesak agar mereka menghentikan serangan biadab tersebut.

Kendati perang 50 hari telah berlalu, pengalaman mencekam kala itu masih menggerayangi ingatan dan kondisi psikis anak-anak Palestina di Gaza. Pengalaman kelam yang tampaknya tak akan pernah hilang dan harus terus mereka bawa hingga tutup usia kelak.

Anak-anak ini tak cuma luka. Mereka juga tenggelam dalam masa lalu yang mencekam.

 

 

Berita Terkait