Jumat , 13 October 2017, 14:58 WIB

Smith: Israel tak Bisa Tolak Perundingan Hamas-Fatah

Red: Elba Damhuri
AP/Khalil Hamra
 Warga Palestina di Gaza City, Kamis (12/10), menyambut gembira kesepakatan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah.
Warga Palestina di Gaza City, Kamis (12/10), menyambut gembira kesepakatan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Marniati

KAIRO -- Hamas dan Fatah baru saja menyelesaikan perundingan damai di Kairo. Sejumlah kesepakatan dicapai untuk mengelola Palestina menjadi lebih kuat.

Israel menentang perundingan damai ini. Republika mewawancarai Smith Alhadar, Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies, untuk membahas masalah ini. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah?
Kita mesti menyambut gembira rekonsiliasi kedua organisasi Palestina ini karena dengan adanya rekonsiliasi ini lebih membuka peluang bagi perjuangan Palestina yang lebih kokoh dalam upaya mendapatkan negara merdeka bagi Palestina.

Lalu, apa tantangan yang akan dihadapi oleh kedua organisasi ini setelah tercapainya rekonsiliasi?
Tantangannya itu walaupun secara politik Fatah juga akan berkuasa di Gaza, tetapi faksi militer Hamas tetap berada di tangan Hamas. Artinya, soal keamanan Gaza masih tetap di tangan Hamas. Dengan demikian, Fatah tidak mempunyai kontrol terhadap sayap militer Hamas di Gaza.

Ini berpotensi menciptakan perpecahan lagi antara Hamas dan Fatah apabila nanti ke depannya sayap militer Hamas mengambil langkah konfrontasi dengan Israel karena dalam perjanjian Oslo antara Israel dan PLO disebutkan keamanan Palestina adalah tanggung jawab dari pemerintahan atau otoritas Palestina, yaitu di bawah Presiden Mahmud Abbas.

Jadi, kalau sampai Hamas mengambil tindakan sepihak terhadap Israel di jalur Gaza, misalnya dengan menempatkan roket atau apa saja, maka Israel akan meletakkan tanggung jawab itu kepada otoritas Palestina yang didominasi oleh Fatah.

Apakah kemungkinan perpecahan itu masih ada?
Kemungkinan itu sudah mengecil. Kalau dulu friksi Fatah dan Hamas cukup lebar, kalau sekarang ada tetapi sudah mengecil karena perjuangan Hamas sudah agak berubah. Perubahan itu, yaitu Hamas tidak lagi menuntut Israel harus digusur, tetapi dia sudah setuju untuk mendirikan negara Palestina di jalur Gaza dan Tepi Barat.

Kedua, dia telah menolak perjuangannya sebagai perjuangan agama. Ini artinya sama dengan Fatah yang berjuang mendirikan negara Palestina yang demokratis, sekuler, dan plural. Ketiga, dia telah memutuskan kaitannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir karena Hamas itu tadinya adalah cabang IM di jalur Gaza. Jadi jurang pemisah makin kecil. Jadi, syarat-syarat untuk rekonsiliasi ini banyak terpenuhi sehingga sekarang perjuangan Hamas itu sudah mirip dengan Fatah.

Apakah rekonsiliasi kedua organisasi ini juga mempercepat proses perdamaian Israel dan Palestina?
Israel tidak menginginkan adanya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. Ketika kedua kelompok ini tetap berkelahi, Israel memiliki alasan karena dia tidak memiliki mitra untuk perdamaian.

Karena selama ini, Israel selalu berkata seperti itu karena ada Hamas di jalur Gaza dan Fatah di Tepi Barat. Jadi, Israel berkata kepada siapa dia harus berbicara untuk proses perdamaian. Nah, dengan adanya persatuan di Palestina, membuat Israel tidak memiliki alasan untuk menolak maju ke meja perundingan untuk perdamaian dengan Palestina.

Tapi, ini rawan juga karena Israel bisa memprovokasi Hamas untuk kemudian berperang dengan Israel sehingga terjadi lagi perpecahan antara Hamas dan Fatah. Dengan begini, akan terkatung-katung terus dan Israel akan terus membangun permukiman Yahudi di Tepi Barat dengan merampas tanah-tanah Palestina.

Apa dampak rekonsiliasi bagi warga Palestina?
Pertama, penderitaan di jalur Gaza itu teratasi karena sudah beberapa bulan terakhir ini Abbas meminta Israel membatasi pasokan listrik ke jalur Gaza. Sehingga dalam satu hari, hanya dua jam listrik menyala.

Nah, ini menimbulkan penderitaan luar biasa. Menghambat aktivitas warga. Kemudian, blokade total jaur Gaza ini menyebakan akses orang-orang Palestina di jalur Gaza untuk berhubungan dengan dunia luar menjadi tidak bisa. Karenanya, salah satu penawaran Mesir dalam rekonsiliasi ini, yaitu membuka gerbang Rafa, sehingga orang-orang Gaza bisa berhubungan dengan dunia luar.

Kedua, front Palestina menjadi semakin kuat dalam menekan Israel untuk maju ke meja perundingan. Dan juga negara-negara luar yang membantu Palestina, seperti Indonesia, lebih semangat untuk berjuang mendapatkan negara Palestina yang merdeka. Selama ini Indonesia bingung dengan siapa dia akan bermitra karena ada Hamas dan Fatah.

Apa dampak bagi dunia internasional dengan adanya rekonsiliasi ini?
Dengan adanya rekonsiliasi, dunia menguat untuk berpihak kepada Palestina. Karena, masalah Palestina adalah induk dari permasalahan di Timur Tengah. Oleh karena itu, dengan adaya rekonsiliasi dua kekuatan Palestina ini membuat negara-negara Arab satu kata dan juga akan berdampak pada dukungan luas di dunia Islam khususnya dan komunitas internasional umumnya. Dan, dampak yang paling bisa kita lihat, yaitu memudahkan menggerakkan kembali proses perdamaian Israel dan Palestina.

(Tulisan ini diolah oleh Fitriyan Zamzami)