Jumat , 13 October 2017, 19:41 WIB

Damai Hamas-Fatah untuk Kemerdekaan Palestina

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Elba Damhuri
Faksi gerakan Islam di Palestina: Hamas dan Fatah
Faksi gerakan Islam di Palestina: Hamas dan Fatah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perundingan damai antara Hamas dan Fatah mendapat respons positif. Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menyambut positif rekonsiliasi Hamas dan Fatah, dua faksi Palestina yang selama ini berseberangan.

Hamas dan Fatah sudah menandatangani kesepakatan rekonsiliasi di Kairo, Mesir, pada Kamis (12/10).

"Apapun yang terbaik untuk Palestina pasti kita dukung. Kita serius seribu persen ingin melihat kemerdekaan dan perdamaian di Palestina," tutur Kharis dalam siaran pers yang diterima, Jumat (13/10).

Kharis mengatakan, poin-poin kesepakatan diharapkan berdampak signifikan untuk menyatukan tidak hanya antara dua faksi saja, tetapi seluruh faksi di Palestina. Dengan demikian akan terwujud Palestina yang merdeka dan berdaulat dapat diwujudkan.

Dalam waktu dekat, menurut Kharis, yang paling mendesak adalah dibukanya isolasi terhadap Gaza yang selama ini menghadapi masalah kemanusiaan serius. Pintu perbatasan Rafah harus segera dibuka sehingga bantuan kemanusiaan dapat disalurkan.

"Demikian juga proses rekonstruksi fisik, ekonomi dan sosial di Gaza yang hancur pasca bombardir Israel dapat dilakukan dengan segera," kata dia.

Kharis menambahkan, kontrol perbatasan Rafah harus dilaksanakan dengan serius. Keseriusan Mesir, sebagai tetangga terdekat dan yang juga mengontrol perbatasaan Rafah, harus ditekankan. Selain itu, peran diplomasi dan kemanusiaan negara-negara lain, termasuk Indonesia, harus ditingkatkan dan jangan berhenti.

"Rekonsiliasi ini harus segera dibarengi terus dengan upaya diplomasi, Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi harus terus berusaha di setiap forum internasional untuk mendorong semua negara, PBB, agar segera dukung Kemerdekaan Palestina," ujar dia.