Kamis , 07 Desember 2017, 03:40 WIB

Assad: Yerusalem akan Jadi Ibu Kota Palestina

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Reiny Dwinanda
AP Photo / Evan Vucci
Presiden Donald Trump, didampingi oleh Wakil Presiden Mike Pence, memegang sebuah dokumen proklamasi yang ditandatanganinya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu (6/12), di Washington.
Presiden Donald Trump, didampingi oleh Wakil Presiden Mike Pence, memegang sebuah dokumen proklamasi yang ditandatanganinya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu (6/12), di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT, AMMAN -- Presiden Suriah Bashar al-Assad bereaksi keras terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. 

"Rakyat Palestina akan tetap hidup di antara orang-orang Arab sampai terbentuk sebuah negara Palestina dengan Yerusalem sebagai Ibu Kotanya," ujarnya seperti dilansir dari Reuters, Kamis (7/12).

"Masa depan Yerusalem tidak ditentukan oleh sebuah negara atau presiden, namun ditentukan oleh sejarah dan kemauan serta tekadnya dalam perjuangan rakyat Palestina," kata Assad melalui media sosial resmi kepresidenannya.

Reaksi serupa juga disampaikan Yordania melalui seorang juru bicara pemerintahnya. Ia menjelaskan, Yordania menolak keputusan AS tersebut karena dapat meningkatkan ketegangan dan melanggar legitimasi internasional.

"Langkah Trump ke Yerusalem juga tidak memiliki kekuatan legal karena mengkonsolidasikan pendudukan Israel di sektor Timur kota," tuturnya.

Pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel disampaikan Trump melalui pengumuman resmi di Gedung Putih, Rabu (6/12). 

Ia juga akan mulai memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv sebagai Yerusalem yang diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.