Kamis , 07 December 2017, 17:35 WIB

Hamas Serukan Intifadah Baru Setelah Trump Akui Yerusalem

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
Reuters/Ahmed Zakot
Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Pemimpin Hamas Ismail Haniyah menyerukan dilakukannya intifadah baru, yang dalam bahasa Arab artinya perlawanan, pada Kamis (7/12). Pasalnya, keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah sebuah deklarasi perang melawan orang-orang Palestina.

"Kita harus melakukannya dan kita harus meluncurkan intifadah di hadapan musuh Zionis," kata Haniyah dalam sebuah pidato di Gaza, dikutip Daily Sabah.

Haniyah menambahkan, perlawanan oleh Palestina untuk menentang langkah tersebut akan dimulai pada Jumat (8/12). "Kami menegaskan Yerusalem bersatu, bukan Timur atau Barat, dan akan tetap menjadi ibu kota Palestina, seluruh Palestina," tegasnya.

Dua Intifadah Palestina yang pernah dilakukan, pada 1987-1993 dan 2000-2005, menunjukkan perlawanan keras melawan pasukan Israel yang menduduki wilayah mereka. Pada Rabu (6/12), seorang juru bicara Hamas juga mengatakan, Trump telah membuka gerbang neraka, dengan mengambil langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Trump mengakui, kota suci Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12), yang langsung memicu reaksi diplomatik di tengah kekhawatiran ketegangan yang meluas di Timur Tengah. Pemimpin AS itu tampaknya semakin terisolasi, karena sekutu dan musuhnya sama-sama mencela keputusannya.

Orang-orang Palestina mempertanyakan apakah hak mereka untuk menjadi negara merdeka, dalam kesepakatan damai yang diperantarai Washington, masih mungkin dilakukan.

Yerusalem masih menjadi inti konflik antara Israel-Palestina. Palestina mengklaim Yerusalem Timur, yang dijajah oleh Israel sejak 1967, sebagai ibu kota negara mereka yang merdeka di masa depan.