Kamis , 07 December 2017, 20:58 WIB

AS pun Ingatkan Warganya yang Tinggal di Israel

Rep: Christiyaningsih/ Red: Joko Sadewo
Amir Cohen/Reuters
Warga Israel Ortodok melintasi warga Palestina di Kota Tua Yerusalem, Jumat (21/7)
Warga Israel Ortodok melintasi warga Palestina di Kota Tua Yerusalem, Jumat (21/7)

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem turut memengaruhi sektor wisata. Kantor konsulat AS di Yerusalem memperingatkan para wisatawan untuk waspada kemungkinan adanya aksi demonstrasi.

Dikutip dari laman Travel and Leisure, para pelancong diminta menjauh dari pusat kota yang berpotensi sebagai tempat terjadinya aksi. Pesan yang disampaikan juga mengingatkan agar para pegawai pemerintah AS dan keluarganya menghindari Old City, West Bank, Bethlehem, dan Jerikho.

Peringatan juga diberikan kepada warga negara AS yang tinggal di Israel, agar tidak berada dekat dengan orang-orang yang bergerombol ataupun militer. Jerman dan Perancis menyusul langkah AS dengan menerbitkan anjuran serupa.

Peringatan tersebut menyusul keputusan Trump yang mengumumkan akan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem dari Tel Aviv. Kebijakan itu secara otomatis sama dengan mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel. Keputusan itu memantik kontroversi dan kemarahan dari pemimpin negara-negara Eropa dan Timur Tengah.

Peringatan yang dirilis konsulat itu menanggapi travel warning yang dikeluarkan oleh kementerian AS. Travel warning itu sejatinya sudah terbit sejak 11 April tahun ini. Penduduk AS diminta tidak mengunjungi jalur Gaza karena dinilai sebagai wilayah yang rawan dan situasinya tak menentu.

Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama yakni Islam, Kristiani, dan Yahudi. Komunitas internasional sepakat untuk tidak mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Semua negara membangun kedutaannya di Tel Aviv hingga muncul kebijakan kontroversial Donald Trump.